Kisah Nyentrik Menteri Susi Bikin Guru Khawatir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama menteri sebelumnya, Sharif Cicip Sutardjo saat memasuki ruang Serah Terima Jabatan (Sertijab) di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, 29 Oktober 2014. Tempo/M IQBAL ICHSAN

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama menteri sebelumnya, Sharif Cicip Sutardjo saat memasuki ruang Serah Terima Jabatan (Sertijab) di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, 29 Oktober 2014. Tempo/M IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CO, Jakarta - Kisah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti jadi sorotan media massa beberapa hari terakhir. Susi menyedot perhatian lantaran sukses menjadi menteri setelah merintis karier di bidang perikanan dan penerbangan meski hanya lulusan sekolah menengah pertama. (Baca: Dropout SMA, Ini Catatan Akademik Menteri Susi)

    Namun kisah inspiratif ini tak urung memunculkan kekhawatiran. Kepala SMAN 1 Kota Yogyakarta Rudy Prakanta mengaku khawatir banyak siswa di sekolahnya yang salah paham dengan kisah eksentrik Susi. Dia khawatir siswa punya pikiran bahwa kesuksesan juga bisa diraih tanpa pendidikan yang memadai.

    Akhirnya, ujar Rudy, para guru harus menjelaskan kepada siswa bahwa kisah sukses Susi bukan pada gaya eksentrik atau tak menempuh pendidikan tinggi, melainkan pada keuletannya dalam berbisnis. "Semangat zero to hero-nya yang harus ditiru," tuturnya kepada Tempo. (Baca: LSM Nelayan Tak Soal Menteri Susi Lulusan SMP)

    Dalam catatan akademik yang diperlihatkan Rudy kepada Tempo, Susi lolos seleksi masuk SMAN 1 Yogyakarta pada 1980. Saat naik ke kelas II, Susi mengambil jurusan ilmu pengetahuan sosial. Menurut Rudy, saat itu Susi sering sakit, kemudian mengundurkan diri setelah menyelesaikan semester pertama tahun ajaran 1981/1982. Rudy juga mengatakan, berdasarkan cerita mantan gurunya, Susi bukan siswa yang memiliki prestasi menonjol, sehingga aktivitas kesehariannya tidak mudah diingat. (Baca: Menteri Susi dan Cerita Keras Kepalanya)

    Dokumen itu menyebutkan prestasi akademik Susi tampak sedang-sedang saja. Saat duduk di semester pertama kelas I, Susi memperoleh nilai 7 untuk pelajaran agama, moral Pancasila, olah raga dan kesehatan, menggambar, fisika, dan bahasa Jerman. Sebagian nilainya turun menjadi 6 saat semester II. Selama duduk di kelas I, Susi hanya sekali memperoleh nilai 8, yakni pada pelajaran bahasa Indonesia. Untuk pelajaran matematika, nilai Susi hanya 5 di semester I dan II. Di semester pertama kelas II, Susi hanya memperoleh nilai 7 masing-masing untuk mata pelajaran pendidikan keterampilan dan moral Pancasila.

    ADHI MAWAHIBUN IDHOM

    Berita Terpopuler
    Hina Jokowi di FB, Tukang Tusuk Sate Ini Ditahan 
    Penghina Jokowi di Facebook Unggah Gambar Cabul
    Tak Mau MA Dipenjara, Keluarga Minta Bertemu Jokowi

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).