Tahu dan Tempe Menghilang di Bekasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pabrik pembuatan pabrik tahu yang mogok produksi di Cipulir, Jakarta, (9/9). Produsen tahu tempe mogok untuk memprotes harga kedelai yang naik menembus Rp 9000 per kg. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Pabrik pembuatan pabrik tahu yang mogok produksi di Cipulir, Jakarta, (9/9). Produsen tahu tempe mogok untuk memprotes harga kedelai yang naik menembus Rp 9000 per kg. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Bekasi  - Sejumlah pedagang tahu dan tempe di pasar tradisional Kota Bekasi, Jawa Barat, tak bisa menjual dagangan karena perajinnya mogok produksi. "Sampai tiga hari kami enggak jualan, karena ada mogok produksi di perajin," kata Asim, seorang pedagang pada Senin, 9 September 2013.

    Pantauan di lapangan, sejumlah lapak penjual tahu dan tempe tampak kosong, bangku maupun kursi sebagaian dibalik tak terlihat penjualnya. Sejak semalam tak ada pasokan tahu dan tempe dari perajin. "Tempe nggak ada, sekarang jualan tauge," kata Asim, 40 tahun.

    Sesuai dengan intruksi dari Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), selama tiga hari (9-11 September) tak ada tahu maupun tempe beredar di pasaran.

    Para pembeli yang datang ke Pasar Bantargebang juga kecewa ketika tak mendapatkan pelengkap lauk pauk itu. Umumnya mereka mengalihkan lauk dengan membeli ikan atau teri. "Kurang enak tanpa tempe," kata Elyas Pasaribu, 30 tahun, seorang pembeli warga Bantargebang.

     Warga lain memilih memborong tempe begitu tahu produksi akan dihentikan dalam tiga hari ke depan. "Saya beli empat kotak," kata Yekti Rubiah, pembeli lain. "Tak bisa makan tanpa tempe."

     

    ADI WARSONO

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.