Sigit Pramono Menjadi Dirut BNI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Negara Indonesia (BNI) akhirnya sepakat mengangkat 10 direksi dan tujuh komisaris. Sembilan diantaranya direksi baru dan tiga komisaris baru. Satu-satunya yang tidak berubah di jajaran direksi adalah Arwin Rasyid yang tetap menjabat sebagai Wakil Direktur Utama.RUPSLB di Hotel Shangrila, Jakarta, Senin (15/12) itu berlangsung lebih kurang 5 jam. Sigit Pramono, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama Bank Internasional Indonesia (BII), diangkat menjadi Direktur Utama. Dari sepuluh nama direktur baru, selain Arwin Rasyid, hanya satu yang berasal dari internal BNI yaitu Ignatius Soepomo. Yang lainnya berasal dari luar BNI yakni Fero Poerbonegoro, Achmad Baiquni, Suroto Muhadji, Bien Soebiantoro, Achil Ridwan Djajadiningrat, Kemal Ranadireksa, dan Tjahjana Tjakrawinata. Tiga kursi komisaris baru adalah Achyar Ilyas (mantan Deputi Gubernur BI), Drajat H Wibowo (pengamat ekonomi INDEF), dan Yap Tjay Soen (komisaris Antam). Empat komisaris lama yaitu Zaki Baridwan (Komisaris Utama), Irwan Sofyan (Wakil Komisaris Utama), Agus Haryanto dan Arif Arryman tetap dipertahankan. Dengan pengangkatan direksi baru ini, rapat luar biasa tersebut menyetujui pengunduran diri Mohammad Arsyad, mantan Direktur Kepatuhan dan Binsar Pangaribuan, mantan Direktur Pengendalian Resiko. Rapat juga memberhentikan direksi lama yakni Saifuddien Hasan, Eko Budiwiyono, Suryo Sutanto, Rachmat Wiriaatmadja dan Agoest Soebhekyie. Selain itu, RULBPS juga menyetujui rencana penggabungan saham yang mengakibatkan pengurangan jumlah saham, peningkatan modal dasar, divestasi saham, dan /management & employee ownership & stock option program/. Amal Ihsan ? Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?