Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Alasan Gen Z Sulit Menabung, Benarkah karena Bergantung pada Paylater?

Reporter

Editor

Laili Ira

image-gnews
Ada beberapa alasan Gen Z sulit menabung. Salah satunya adalah karena bergantung pada paylater untuk kesenangan. Ini penjelasannya. Foto: Canva
Ada beberapa alasan Gen Z sulit menabung. Salah satunya adalah karena bergantung pada paylater untuk kesenangan. Ini penjelasannya. Foto: Canva
Iklan

TEMPO.CO, JakartaGen Z merupakan generasi yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012. Selain dikenal sebagai generasi yang manja dan sering mengeluh, Gen Z juga terkenal sulit menabung. Ada beberapa alasan Gen Z sulit menabung, salah satunya adalah tingkat gaji Gen Z yang tidak sebanding dengan biaya hidup mereka.

Disamping hal tersebut, faktanya saat ini hanya 24% masyarakat Indonesia yang memiliki dana darurat yang memadai dan menurut hasil penelitian Finder, 31% dari Gen Z tidak memiliki tabungan. Bahkan jika ada tabungan, jumlahnya jarang melebihi 10 juta rupiah.

Artikel berikut ini akan membahas lebih lanjut alasan lain yang membuat generasi Z kesulitan menabung.

Alasan Gen Z Sulit Menabung

1. Fear Of Missing Out (FOMO)

FOMO menjadi salah satu hal yang menyebabkan Gen Z sulit untuk menabung. Berdasarkan hasil sensus penduduk 2020 yang dilakukan oleh BPS, Gen Z merupakan kelompok yang memiliki potensi besar sebagai pangsa pasar di berbagai segmen, baik yang bersifat konsumtif maupun produktif dan mampu mempengaruhi arah perkembangan ekonomi dan perilaku konsumsi di masa depan.

Meskipun banyak yang berpendapat bahwa gaya hidup Gen Z cenderung boros, sebenarnya ada faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan ini dan membuat mereka kesulitan menabung.

Salah satu faktornya adalah akses internet yang semakin mudah. Gen Z dapat dengan cepat mengakses informasi, membuka e-commerce, dan terhubung dengan media sosial.

Akses internet yang luas ini, sayangnya membawa dampak negatif seperti fenomena FOMO atau "Fear of Missing Out". Ketika seseorang mengalami FOMO, mereka merasa cemas dan takut ketinggalan tren. 

Penelitian menunjukkan bahwa Gen Z yang mengalami FOMO cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah karena terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. 

Bahkan, buruknya FOMO dapat membuat seseorang terburu-buru mengambil keputusan tanpa riset atau analisis yang matang, termasuk dalam pembelian barang.

2. Bergantung pada Paylater

Penyebab Gen Z sulit menabung juga karena tersedianya sistem peminjaman fintech dan paylater pada masa kini.

Terdapat fakta menarik terkait perilaku keuangan Gen Z yang perlu dicermati. Menurut data dari OJK pada Desember 2022, terlihat bahwa Gen Z dan Generasi Milenial memiliki tingkat utang yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi lainnya, terutama terlihat dari kepemilikan rekening dan jumlah pinjaman yang belum lunas pada fintech P2P lending.

Dari statistik tersebut, 62% rekening pada fintech P2P lending dimiliki oleh kelompok usia 19-34 tahun dan sekitar 60% dari total pinjaman yang disalurkan oleh fintech ini juga diperuntukkan bagi kelompok usia yang sama.

Tingginya jumlah utang di kalangan Gen Z tidaklah mengherankan mengingat kemudahan akses teknologi yang semakin maju. Aplikasi digital, seperti fintech pendanaan dan fitur paylater. mempermudah proses pengajuan pinjaman dengan persyaratan yang lebih sederhana dan praktis. 

Selain itu, aplikasi untuk belanja online dan fitur paylater memberikan kenyamanan dalam bertransaksi bagi penggunanya. Namun di sisi lain, bisa mendorong praktik utang yang konsumtif.

Meski memiliki penghasilan, kurangnya kemampuan mengelola keuangan dapat membuat mereka cenderung konsumtif. Jika pendapatan tidak cukup untuk menutupi pengeluaran, utang menjadi pilihan sementara meskipun faktanya bisa menjadi sumber masalah di masa depan.

3. Tuntutan Biaya Hidup yang Tinggi

Sebagian besar dari Generasi Z menghadapi beban biaya hidup yang tinggi, termasuk biaya pendidikan yang semakin mahal, biaya perumahan yang melonjak, dan utang pendidikan yang memberatkan. 

Menurut laporan dari Federal Reserve, biaya pendidikan perguruan tinggi telah meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, melebihi laju inflasi. 

Akibatnya, banyak dari generasi ini terbebani oleh utang pendidikan atau student loan yang signifikan sejak awal dewasa, sehingga membuat menabung menjadi lebih sulit.

4. Penghasilan yang Rendah

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Meskipun Generasi Z cenderung sangat terampil secara teknologi dan berpendidikan tinggi, mereka sering kali masuk ke pasar kerja dengan penghasilan yang relatif rendah. 

Laporan dari Pew Research Center menunjukkan bahwa tingkat pengangguran dan ketidakstabilan pekerjaan sering kali tinggi di antara generasi ini, menyebabkan penghasilan yang tidak pasti dan tidak cukup untuk menutupi kebutuhan dasar, apalagi menabung untuk masa depan.

5. Ketidakstabilan Ekonomi

Tantangan ekonomi global, seperti resesi dan pandemi COVID-19, telah meningkatkan ketidakpastian finansial bagi Generasi Z. 

Banyak dari mereka telah mengalami pemotongan jam kerja, pengangguran, atau penurunan penghasilan selama periode ekonomi sulit ini, mengakibatkan kesulitan dalam menabung atau bahkan memenuhi kebutuhan dasar.

Tips Mengelola Keuangan Untuk Gen Z

Untuk mengatasi berbagai hal yang menyebabkan Gen Z kesulitan menabung, berikut ini terdapat beberapa tips bagi Gen Z untuk mengelola keuangan.

1. Lakukan Budgeting

Pertama, budgeting 50:30:20. Istilah ini sering disuarakan oleh influencer keuangan dan menjadi metode yang familiar bagi anak muda jaman sekarang. Namun, sebelumnya penting untuk memahami alasan di balik perlunya melakukan budgeting dengan metode ini. 

Banyak orang kesulitan menabung karena tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang seberapa besar alokasi yang harus diberikan untuk kebutuhan, keinginan, dan tabungan, sehingga seringkali penghasilan habis untuk kebutuhan dan keinginan saja tanpa sisa.

Dalam metode budgeting ini, penghasilan dapat diatur dengan pembagian proporsi 50:30:20. Sebagai contoh, jika Anda memiliki gaji sebesar Rp3.000.000, Anda dapat mengalokasikan 50% untuk kebutuhan sehari-hari seperti tempat tinggal, makan, dan transportasi. 

Kemudian, 30% dapat dialokasikan untuk memenuhi keinginan seperti belanja pakaian, sepatu, atau bersantai di cafe favorit. Sisa 20% dapat disimpan sebagai tabungan. 

Dengan cara ini, semua kebutuhan, keinginan, dan tabungan dapat terpenuhi secara seimbang. Meskipun demikian, metode budgeting tidak hanya terbatas pada 50:30:20 tetapi bisa disesuaikan dengan penghasilan dan pengeluaran bulanan masing-masing.

2. Tetap Menabung Meski Sedikit

Lalu, tips yang kedua berkaitan dengan sebuah pepatah yang mengatakan "Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit”. 

Dalam konteks menabung, pepatah ini mengajarkan pentingnya menabung dalam jumlah kecil namun rutin setiap bulan.

Menabung secara konsisten membantu membangun kebiasaan menabung sejak dini, yang dapat dijalankan sepanjang hidup. 

Dengan cara ini, Anda tidak hanya membangun tabungan, tetapi juga mempraktikkan kebiasaan positif yang dapat diwarisi hingga usia tua.

GHEA CANTIKA NOORSYARIFA

Pilihan Editor: 6 Masalah yang Paling Sering Dikonsultasikan Gen Z ke Terapis

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Panduan Memilih Tabungan Anak yang Tepat dan Menguntungkan

5 hari lalu

Pegawai bank memperkenalkan uang kepada siswa TK/Playgroup Khalifah Makassar dalam kunjungan ke Bank BNI Syariah, Makassar, 28 April 2016. Program menabung bagi anak ini memanfaatkan program tabungan khusus anak-anak. TEMPO/Fahmi Ali
Panduan Memilih Tabungan Anak yang Tepat dan Menguntungkan

Memilih tabungan anak yang tepat merupakan langkah penting dalam membantu anak memulai perjalanan mereka mengelola keuangan secara mandiri.


Cara Membuat Rekening Tabungan Anak di Bawah Umur

6 hari lalu

Petugas menyerahkan buku tabungan Simpanan Pelajar (Simpel) kepada pelajar di SDN Pondok Labu 07, Jakarta, Kamis, 10 Maret 2022. Sebanyak 500 pelajar mendapatkan tabungan Simpanan Pelajar (Simpel) dalam rangka mendukung program OJK untuk kepemilikan mendapatkan rekening siswa One Student One Account Bank DKI mendorong budaya menabung sejak dini serta sebagai bentuk penerapan literasi dan inklusi keuangan. TEMPO/M Taufan Rengganis
Cara Membuat Rekening Tabungan Anak di Bawah Umur

Dengan memiliki rekening tabungan anak akan mengajarkan membiasakan diri untuk menabung sejak dini. Bagaimana cara membuatnya?


Kontribusi BINUS University Atasi Masalah Pengangguran Gen Z

7 hari lalu

Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Dr. M. Samsuri, S.Pd., M.T., IPU. saat memberikan sambutan di Wisuda 69 pada 10 dan 11 Juli 2024
Kontribusi BINUS University Atasi Masalah Pengangguran Gen Z

Sebanyak 80,1 persen lulusan wisuda 69 BINUS langsung berkarier


Di Festival Pesta Prestasi, Komunitas GUA Ajak Gen Z Bergaya Hidup Guna Ulang

8 hari lalu

Komunitas Guna Ulang Aja (GUA) di festival 'Pesta Prestasi' di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga, Sabtu 6 Juli 2024.  Komunitas ini mengajak Gen Z bergaya hidup reuse untuk mengurangi timbulan sampah. Foto/Dok. GUA
Di Festival Pesta Prestasi, Komunitas GUA Ajak Gen Z Bergaya Hidup Guna Ulang

Selain komunitas guna ulang, hadir pula aktivis penyelamat kucing dan anjing liar serta relawan dari komunitas penggiat donor darah sebagai pembicara.


Siapkan Taman Buah untuk Kebutuhan ASN Jakarta yang Pindah, OIKN: Tempat Healing Work from IKN

9 hari lalu

Deputi Lingkungan Hidup Sumber Daya Alam OIKN Myrna Asnawati Safitri saat penanaman pohon untuk Ruang Hijau Taman Buah Puspantara IKN di Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur pada Senin, 8 Juli 2024. TEMPO/Bagus Pribadi
Siapkan Taman Buah untuk Kebutuhan ASN Jakarta yang Pindah, OIKN: Tempat Healing Work from IKN

Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN Myrna Safitri mengatakan pembuatan Ruang Hijau Taman Buah Puspantara di Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, salah satunya untuk menyambut para aparatus sipil negara (ASN) dari Jakarta yang akan pindah pada September 2024.


Koalisi Masyarakat Sumbar Tolak Politik Uang dan Politik Dinasti: Kemenangan 40 Persen dari Transaksional

19 hari lalu

Ilustrasi politik uang. shutterstock.com
Koalisi Masyarakat Sumbar Tolak Politik Uang dan Politik Dinasti: Kemenangan 40 Persen dari Transaksional

Koalisi masyarskat sipil Sumbar menggelar diskusi "Sumatra Barat Melawan Politik Uang dan Politik Dinasti". Apa saja


9 Tips Menabung Beli Hewan Kurban, Kumpulkan Uang 8 ribu Per Hari

27 hari lalu

Cara menabung 1 juta dalam sebulan. Foto: Canva
9 Tips Menabung Beli Hewan Kurban, Kumpulkan Uang 8 ribu Per Hari

Berikut ini beberapa tips menabung beli hewan kurban yang bisa Anda terapkan. Pastikan untuk menentukan anggaran dan target.


Ingin Rayakan Idul Adha di Tanah Suci, Ayudia Bing Slamet: Super Fomo Lihat Orang Pergi Haji

30 hari lalu

Ayudia Bing Slamet/Foto: Instagram/Ayudia
Ingin Rayakan Idul Adha di Tanah Suci, Ayudia Bing Slamet: Super Fomo Lihat Orang Pergi Haji

Di Hari Raya Idul Adha, Ayudia Bing Slamet menyelipkan doa agar segera diberi kesempatan untuk menyusul melaksanakan ibadah haji.


Sering Dikira Problematik, Berikut 7 Sisi Positif Gen Z yang Harus Diketahui

33 hari lalu

Ilustrasi anak muda dan gadget. Shutterstock
Sering Dikira Problematik, Berikut 7 Sisi Positif Gen Z yang Harus Diketahui

Meskipun sering dihadapkan pada stereotip negatif, Gen Z memiliki banyak sisi positif.


8 Dampak Negatif Media Sosial Jika Tak Digunakan Dengan Bijak

37 hari lalu

Ilustrasi perempuan melihat Instagram. unsplash.com/social.cut
8 Dampak Negatif Media Sosial Jika Tak Digunakan Dengan Bijak

Media sosial juga memiliki dampak negatif apabila tidak digunakan dengan bijak. Apa saja?