OPEC Prediksi Permintaan Minyak Dunia Naik dan Lampaui Pasokan pada 2023, Dampaknya ke Harga?

Seorang lelaki berdiri dekat dengan kilang Cardon, milik perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA di Punto Fijo, Venezuela 22 Juli 2016. [REUTERS]

TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak atau OPEC memperkirakan permintaan akan minyak dunia bakal terus meningkat dan melampaui jumlah pasokan pada tahun 2023. 

Laporan OPEC yang dikutip Bloomberg pada Rabu, 13 Juli 2022, di antaranya memprediksi keterbatasan pasokan minyak akan berlanjut pada tahun depan. Permintaan minyak mentah bakal tumbuh dan melebihi produksi hingga 1 juta barel per hari. Sementara permintaan global naik menjadi 2,7 juta barel per hari pada tahun 2023.

Kenaikan permintaan tersebut ditopang oleh pertumbuhan negara-negara berkembang. Sedangkan pasokan dari negara di luar OPEC akan bertambah hingga 1,7 juta barel per hari. “Permintaan bahan bakar dan diesel akan menjadi pendorong pertumbuhan konsumsi,” tulis laporan itu.

Laporan OPEC untuk tahun depan tersebut seiring dengan penilaian beberapa pandangan di industri minyak. International Energy Agency (IEA) sebelumnya memprediksi jumlah pasokan minyak akan mengalami keterbatasan.

Untuk menjembatani kekurangan tersebut, OPEC harus menyediakan sekitar 30,1 juta barel per hari pada tahun 2023. Jumlah tersebut lebih tinggi 1,38 juta barel per hari dibandingkan dengan total produksi negara anggota OPEC pada Juni 2022.

Adapun, OPEC telah berusaha untuk memulihkan produksi yang sempat tersendat akibat pandemi virus corona, dengan pasokan terakhir dijadwalkan pada bulan depan. Meski demikian, jumlah produksi OPEC masih berada dibawah target akibat beberapa negara seperti Angola dan Nigeria yang menghadapi kesulitan seperti minimnya penanaman modal dan masalah operasional.

Sementara itu, total produksi Libya anjlok seiring dengan konflik politik di negara tersebut. Akibat anjloknya pasokan, jumlah cadangan bahan bakar di negara-negara industri menurun dengan cepat. Tercatat, jumlah cadangan anjlok 312 juta barel di bawah rerata 5 tahunan pada Mei lalu.

Harga minyak mentah berjangka Brent pada Kamis, 14 Juli 2022, untuk pengiriman September naik 8 sen atau hampir 0,1 persen menjadi US$ 99,57 per barel. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Agustus naik 46 sen atau 0,5 persen menjadi US$ 96,3 per barel.






Rupiah Diprediksi Melemah di Level 15.270 per Dolar AS, Analis Beberkan Penyebabnya

1 hari lalu

Rupiah Diprediksi Melemah di Level 15.270 per Dolar AS, Analis Beberkan Penyebabnya

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah.


Mulai Hari Ini Harga Pertamax Turun dan Pertamina Dex Naik, Simak Rinciannya

3 hari lalu

Mulai Hari Ini Harga Pertamax Turun dan Pertamina Dex Naik, Simak Rinciannya

Harga BBM nonsubsidi disesuaikan lagi. Per hari ini, Pertamina menurunkan harga Pertamax dan Pertamax Turbo. Harga Dexlite dan Perta Dex dinaikkan.


Bursa AS Jeblok ke Level Terburuk Sejak Maret 2020, Apa Sebabnya?

3 hari lalu

Bursa AS Jeblok ke Level Terburuk Sejak Maret 2020, Apa Sebabnya?

Bursa saham Amerika Serikat atau Bursa AS jeblok pada akhir perdagangan Jumat, 30 September 2022.


Per Hari Ini, Harga Pertamax Turun Jadi Rp 13.900 per Liter

3 hari lalu

Per Hari Ini, Harga Pertamax Turun Jadi Rp 13.900 per Liter

Harga Pertamax resmi turun menjadi Rp 13.900 per liter untuk wilayah Jakarta, mulai hari ini, Sabtu, 1 Oktober 2022.


Rupiah Akhir Tahun Diprediksi Tak Sampai Rp 15.000, Ekonom: Rupiah Masih Undervalued

3 hari lalu

Rupiah Akhir Tahun Diprediksi Tak Sampai Rp 15.000, Ekonom: Rupiah Masih Undervalued

Nilai tukar rupiah terpantau masih berada pada level di atas Rp15.200 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Jumat 30 September 2022.


Rupiah Jeblok ke 15.266 per Dolar AS, BI: Inflasi di Emerging Market Tak Sebesar Negara Maju

5 hari lalu

Rupiah Jeblok ke 15.266 per Dolar AS, BI: Inflasi di Emerging Market Tak Sebesar Negara Maju

Bank Indonesia (BI) angkat bicara menanggapi jebloknya nilai tukar rupiah belakangan telah tembus ke 15.266 per dolar AS.


Stafsus Sri Mulyani: Pemerintah Sengaja Kurangi Penarikan Utang Baru

5 hari lalu

Stafsus Sri Mulyani: Pemerintah Sengaja Kurangi Penarikan Utang Baru

Stafsus Sri Mulyani menyatakan pemerintah tengah mengambil sikap mengurangi penarikan utang baru untuk membiayai APBN.


IHSG Bangkit ke Zona Hijau, Saham Bakrie Group Paling Laris di Perdagangan Sesi I

6 hari lalu

IHSG Bangkit ke Zona Hijau, Saham Bakrie Group Paling Laris di Perdagangan Sesi I

IHSG bergerak ke level 7.130,96 atau menguat 0,26 persen dari penutupan perdagangan kemarin di level 7.112,45.


Kian Melemah, Rupiah Diperkirakan Bakal Tembus Rp 15.400 Per Dolar AS

6 hari lalu

Kian Melemah, Rupiah Diperkirakan Bakal Tembus Rp 15.400 Per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kian tertekan pada perdagangan hari ini, Rabu, 28 September 2022.


Singapura Ekspor BBM Meski Tak Punya Ladang Minyak, Ini Penjelasan Eks Menteri ESDM

6 hari lalu

Singapura Ekspor BBM Meski Tak Punya Ladang Minyak, Ini Penjelasan Eks Menteri ESDM

Arcandra Tahar membeberkan bagaimana Singapura yang tak memiliki ladang minyak bisa menjadi salah satu negara eksportir BBM di Asia.