Sultan HB X: KRL Yogyakarta - Solo Penting untuk Masyarakat yang Mondar-mandir

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengecek Hotel Mutiara di Jalan Malioboro yang akan menjadi mal khusus UMKM, Rabu 21 Oktober 2020. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengecek Hotel Mutiara di Jalan Malioboro yang akan menjadi mal khusus UMKM, Rabu 21 Oktober 2020. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan keberadaan KRL Yogyakarta - Solo sangat penting bagi sebagian masyarakat bepergian di dua wilayah tersebut secara rutin.

    "Terima kasih kehadiran Presiden untuk resmikan KRL Jogja-Solo, di mana para penumpang yang bekerja dan bersekolah ke Solo maupun Jogja sedemikian besar," ujar Sultan HB X dalam siaran langsung di akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 1 Maret 2021. "Keberadaan Prameks atau KRL sangat penting bagi sebagian masyarakat yang setiap hari sampai sore mondar mandir Jogja-Solo."

    Dengan diresmikannya KRL Jogja-Solo tersebut, Sultan HB X berharap moda transportasi itu menjadi pilihan yang baik bagi masyarakat dari segi ketepatan waktu. Pasalnya, masyarakat membutuhkannya untuk mengejar kegiatan belajar, kuliah, maupun bekerja.

    "Dengan harapan demikian, semoga masyarakat dengan pelayanan KRL ini bisa lebih baik dirasakan," ujar Sultan.

    Presiden Joko Widodo alias Jokowi meresmikan kereta rel listrik atau KRL Yogyakarta - Solo, pada hari ini, Senin, 1 Maret 2021. KRL ini telah beroperasi sejak 12 Februari 2021 menggantikan kereta Prambanan Ekspres atau Prameks.

    Jokowi menyebutkan keunggulan KRL Jogja-Solo ini dibandingkan dengan Prameks. Dari sisi kecepatan, ia mengatakan KRL bisa mengantar penumpang 10 menit lebih cepat dibanding kereta pendahulunya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.