Survei BMSI, Pelaku UMKM Optimistis Menyongsong 2021

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama BRI Sunarso ketika menyampaikan hasil survei BMSI secara virtual di Jakarta, Kamis, 18 Februari 2021.

    Direktur Utama BRI Sunarso ketika menyampaikan hasil survei BMSI secara virtual di Jakarta, Kamis, 18 Februari 2021.

    JAKARTA-Optimisme pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam menggeluti bisnis pada kuartal IV-2020  tetap terjaga. Hal ini  tercermin pada indeks ekspektasi BRI Micro & SME Index (BMSI) yang tercatat di atas 100, yaitu 105,4.

    Masih tingginya indeks ekspektasi menunjukkan mayoritas pelaku UMKM optimistis aktivitas usaha mereka akan semakin membaik pada kuartal I-2021. “Dunia usaha cukup optimistis menyongsong tahun 2021,” ujar Direktur Utama BRI Sunarso ketika menyampaikan hasil survei BMSI secara virtual di Jakarta, Kamis, 18 Februari 2021.

    Di sisi lain hasil survei BMSI kali ini juga menunjukkan  naiknya indeks kepercayaan pelaku UMKM kepada Pemerintah (IKP), yakni 136,3, lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya yang berada di angka 126,8. Sunarso menyimpulkan angka ini menunjukkan bahwa mayoritas pelaku UMKM memberikan penilaian yang baik terhadap kemampuan Pemerintah menjalankan tugasnya.

    Secara umum kinerja bisnis UMKM pada kuartal IV-2020 mengalami sedikit penurunan dibanding periode sebelumnya, yakni menjadi 81,5, dari sebelumnya di angka 84,2. Penurunan ini sejalan dengan penurunan PDB sebesar minus 0,42 persen dari kuartal III ke kuartal IV-2020.

    Tercatat tiga faktor sebagai penyebab penurunan kinerja UMKM ini, yaitu dampak pengetatan aktivitas sosial dan mobilitas masyarakat, faktor musiman atau siklus bisnis, serta pengaruh cuaca yang mengganggu produksi UMKM. 

    “Kebijakan PSBB ketat diakhir kuartal III-2020, yang diikuti pengurangan hari libur Natal dan Tahun Baru 2020 membuat banyak konsumen membatalkan rencana liburan dan belanja akhir tahunnya, yang selanjutnya menekan kinerja bisnis UMKM,” ujar Sunarso.

    BMSI mencatat penurunan terbesar terjadi pada volume produksi dan nilai penjualan. Hal ini berdampak pada volume persediaan barang input, barang jadi, dan penggunaan tenaga kerja yang juga lebih rendah. Secara sektoral, hampir semua sektor mengalami penurunan, kecuali sektor industri pengolahan. Penurunan tertinggi terjadi pada sektor hotel dan restoran.

    Sementara penurunan di sektor pertanian berhubungan dengan awal musim tanam, sehingga produksi pertanian, khususnya tanaman pangan mengalami penurunan. Lebih lanjut, level BMSI sektor pertambangan dan konstruksi juga lebih rendah dari kuartal sebelumnya, karena tingginya curah hujan yang menganggu aktivitas konstruksi (perumahan) dan kegiatan produksi pertambangan.

    Ekonom senior BRI Anton Hendranata menuturkan, stimulus pemulihan ekonomi 2020 berupa restrukturisasi,  pinjaman baru serta kombinasi keduanya telah berdampak positif pada pelaku usaha sehingga mereka tidak jatuh lebih dalam.

    “Ketika mereka tidak jatuh lebih dalam, kemudian ditopang dengan pinjaman baru, membuat mereka bisa kembali berusaha. Demikian juga pelaku usaha yang masih bisa bertahan kemudian mendapat pinjaman baru, sangat efektif untuk mereka bisa bangkit,” katanya.

    BMSI diluncurkan BRI pada November 2020 lalu untuk mengukur aktivitas bisnis UMKM sekaligus bentuk kepedulian BRI tehadap aktivitas UMKM Indonesia. Survei kali ini dilakukan di 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan melibatkan melibatkan 5.000 responden nasabah UMKM. Jumlah responden ini meningkat sebesar 67 persen dibanding survei BMSI periode sebelumnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.