Erick Thohir Rombak Direksi BUMN Karya Karena Utang

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir saat melihat uji coba alat ventilator milik Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Kamis, 16 April 2020. Erick Thohir berharap wabah COVID-19 ini menjadi titik balik bagi Indonesia untuk menghasilkan produk kesehatan dalam negeri khususnya ventilator guna menunjang fasilitas Rumah Sakit yang ada di Indonesia. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir saat melihat uji coba alat ventilator milik Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Kamis, 16 April 2020. Erick Thohir berharap wabah COVID-19 ini menjadi titik balik bagi Indonesia untuk menghasilkan produk kesehatan dalam negeri khususnya ventilator guna menunjang fasilitas Rumah Sakit yang ada di Indonesia. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan faktor pengelolaan utang menjadi salah satu alasan perombakan manajemen BUMN karya. Ada lima BUMN karya yang mengalami perombakan manajemen pada bulan lalu.

    Menurut Erick Thohir, BUMN karya mengandalkan utang dari perbankan maupun penerbitan obligasi untuk mengerjakan proyek investasi. Proyek tersebut ada yang merupakan penugasan dari pemerintah maupun ekspansi usaha masing-masing BUMN.

    Proyek tersebut memberikan imbal hasil panjang atau biasa disebut greenfield project. Sementara itu, sumber pendanaan berasal dari kredit perbankan yang jangka waktunya lebih pendek. Hal itu membuat mismatch atau ketidakcocokan tenor dalam pendanaan.

    “Inilah mengapa Direksi BUMN Karya kemarin dilakukan penyegaran, karena saya mau memastikan usaha mereka tetap jalan, infrastruktur juga jalan. Tapi source pinjaman harus dibedakan. Kenapa harus Himbara lagi?” ujarnya dalam sesi diskusi daring, Kamis malam, 3 Juli 2020.

    Salah satu BUMN yang menanggung utang adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Sejak 2014, Waskita Karya mendapat penugasan untuk mengakuisisi konsesi jalan tol yang belum selesai. Misal, ruas Bogor-Ciawi-Sukabumi, Cimanggis-Cibitung, Cibitung-Cilincing.

    Waskita Karya juga menanggung biaya konstruksi dengan skema turnkey untuk proyek besar seperti jalan tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung dan LRT Palembang. Pembayaran atas jasa konstruksi sampai saat ini bahkan belum sepenuhnya lunas.

    Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono mengatakan Kementerian Perhubungan belum membayar sisa kontrak Rp1,92 triliun untuk proyek LRT Palembang.

    “Total utang yang kami miliki Rp89 triliun, sampai tahun depan. Tapi ini ada progres yang belum terhitung, termasuk progres dana talangan tanah, hampir 70 persen pengadaan investasi tol ini didanai pinjaman,” katanya.

    Destiawan adalah salah satu figur baru di Waskita Karya. Destiawan ditunjuk sebagai direktur utama di Waskita Karya setelah menempa karier cukup lama di PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

    Selain Waskita Karya, tiga BUMN karya lainnya juga dipimpin eks WIKA, yaitu Entus Asnawi (Dirut Adhi Karya), Budi Harto (Dirut Hutama Karya), dan Novel Arsyad (Dirut PTPP). Erick Thohir juga mengubah jajaran direksi WIKA yang mana bekas Direktur Operasi WIKA Agung Budi Waskito ditunjuk sebagai direktur utama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.