Ombudsman Minta Siapkan Dana untuk PLN Ganti 14,3 Juta kWh Meter

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Ombudsman, Laode Ida memberikan keterangan ihwal rencana investigasi dampak penghentian ekspor nikel di kantornya Jakarta, Jumat, 15 November 2019. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    Anggota Ombudsman, Laode Ida memberikan keterangan ihwal rencana investigasi dampak penghentian ekspor nikel di kantornya Jakarta, Jumat, 15 November 2019. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Ombudsman RI Laode Ida menuturkan 14,3 juta unit kWh meter pelanggan PT PLN (Persero) yang belum ditera ulang.

    Dia pun mendorong kepada perusahaan setrum negara tersebut memperbaharui kWh meter yang sudah berusia 10-15 tahun tersebut. Karena khawatirkan sudah tak  akurat dalam menghitung tagihan listrik pelanggan PLN.

    "Kalau betul akurasi rendah maka pemerintah menyiapkan dana untuk PLN, agar PLN menyediakan teknologi yang mutakhir dan tak lagi terjadi komplain dari masyarakat," ucapnya kepada Tempo, Kamis 18 Juni 2020.

    Laode mengatakan, kWh meter yang sudah kadaluwarsa itu sudah tak boleh dipertahankan. Itu akan merugikan kedua belah pihak yakni PLN dan pelanggan itu sendiri.

    Dengan pemerintah menjamin memberikan dana ke PLN untuk peremajaan kWh meter, kata Laode, maka perseroan bisa dengan segera memperbaharui alat ukur itu dengan teknologi terbaru. "Sehingga bisa memastikan PLN itu memperoleh tagihan sesuai penggunaan daya dari setiap pelanggan, dan juga pelanggan tak ada komplain lain," ucapnya.

    Pada saat yang bersamaan, Ombudsman juga menganjurkan kepada PLN agar petugas pencatatan meter pada saat pengecekan ke lapangan sekaligus menginformasikan total tagihan listrik kepada pelanggan.

    Walhasil, para pelanggan PLN bisa terinformasikan dengan baik dan tidak terjadi terkejutan ketika terjadi kenaikan. "Secara otomatis terkalkukasi berdasarkan daya atau kWh yang digunakan dan bayar berapa," kata Laode.

    Sebelumnya,  Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini mengungkapkan, hingga sampai 15 Juni 2020 perseroan telah meremajakan sebagian kWh meter yang sudah tua. Ia mengatakan, PLN lebih efisien mengganti unit dibandingkan dengan melakukan tera ulang.

    "Sebanyak 7,7 juta meter tua telah diganti, sisanya yakni sebanyak 8,3 juta meter tua sedang dalam proses," kata dia melalui keterangan tertulis, Rabu 17 Juni.

    Sementara itu, terkait keluhan sebagian masyarakat mengenai lonjakan tagihan listrik pelanggan selama bulan Mei dan Juni 2020, Zulkifli memastikan, perseroan menghitung tagihan pemakaian masyarakat dengan harga kWh meter yang berlaku sejak tahun 2017, dengan proses yang transparan dan kehati-hatian.

    "Lonjakan tersebut terjadi karena pemakaian yang meningkat oleh pelanggan, bukan karena adanya kenaikan tarif atau subsidi silang tarif," ucapnya

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.