Longgarkan Ekonomi, Pemerintah Waspadai Gelombang Kedua Corona

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengukur suhu tubuh pengunjung di salah satu pusat perbelanjaan di Palu, Sulawesi Tengah, Senin, 8 Juni 2020. Pemerintah setempat memperketat pelaksanaan protokol kesehatan terutama di pusat-pusat perbelanjaan untuk mencegah penularan COVID-19 menyusul adanya tambahan 16 kasus positif baru di daerah itu dan dalam rangka tatanan hidup new normal. ANTARA/Basri Marzuki

    Petugas mengukur suhu tubuh pengunjung di salah satu pusat perbelanjaan di Palu, Sulawesi Tengah, Senin, 8 Juni 2020. Pemerintah setempat memperketat pelaksanaan protokol kesehatan terutama di pusat-pusat perbelanjaan untuk mencegah penularan COVID-19 menyusul adanya tambahan 16 kasus positif baru di daerah itu dan dalam rangka tatanan hidup new normal. ANTARA/Basri Marzuki

    TEMPO.CO, Jakarta - Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Reza Yamora Siregar mengatakan pemerintah sangat berhati-hati dalam membuka aktivitas perekonomian untuk mencegah terjadinya wabah corona atau COVID-19 gelombang kedua di Indonesia.

    Reza mengatakan hal itu dilakukan karena terdapat potensi yang besar terhadap munculnya wabah corona atau COVID-19 gelombang kedua di Indonesia.

    “Ini kalau boleh kita share juga perspektif yang ada di kepala kita untuk kondisi saat ini gelombang kedua itu kemungkinan besar akan terjadi. Probability untuk kejadian itu cukup tinggi,” katanya dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2020.

    Reza menuturkan suatu pandemi tidak hanya berlangsung dalam waktu beberapa bulan saja, melainkan bisa mencapai tahunan yang terdiri dari beberapa gelombang.

    “Kalau kita belajar krisis pandemi yang sudah-sudah itu tidak setop sekian bulan misalnya Flu Spanyol pada 1918 itu 1920 baru selesai dengan dua sampai tiga gelombang,” ujarnya.

    Oleh sebab itu, ia mengatakan pemerintah berhati-hati dalam melonggarkan aktivitas ekonomi melalui penerapan normal baru atau new normal setelah adanya PSBB selama hampir tiga bulan. “Kita harus hati-hati karena dengan adanya kemungkinan gelombang kedua ini apakah kita main tutup buka seenaknya begitu. Itu tidak bisa,” katanya.

    Ia menyebutkan langkah kehati-hatian pemerintah dilakukan salah satunya melalui penegasan penerapan protokol kesehatan di setiap aktivitas perekonomian selama masa pandemi ini belum berakhir.

    “Antisipasi gelombang kedua itu jelas ada makanya persiapan yang paling penting dari kita itu protokol kesehatan. Setiap sektor usaha sebelum mereka dibuka harus menyiapkan protokolnya,” katanya.

    Tak hanya itu, Reza mengatakan pemerintah juga meminta bantuan dari berbagai elemen dalam rangka mengawasi penerapan protokol kesehatan tersebut seperti TNI dan Polri yang turut mendisiplinkan masyarakat.

    “Gelombang kedua itu pasti kejadian tapi apakah kita kemudian kembali menutup atau kita memperkuat protokolnya, fasilitas kesehatannya, dan memperbanyak testing nya. Kita harus mengantisipasi itu supaya ekonomi bisa jalan terus,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Lengkap Harga Mobil Toyota Tanpa PPnBM, dari Avanza hingga Vios

    Relaksasi Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) mobil berlaku pada 1 Maret 2021. Terdapat sejumlah model mobil Toyoto yang mendapat diskon pajak.