Mal Siap Dibuka, Subsektor Retail Diperkirakan Pulih Bertahap

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pegawai tengah membersihkan salah satu gerai di Lotte shopping Avenue, Jakarta, Kamis 4 Juni 2020. Gubernur DKI Jakarta mengumumkan kegiatan sosial ekonomi di pusat perbelanjaan dibuka pada tanggal 15 Juni 2020. Tempo/Tony Hartawan

    Suasana pegawai tengah membersihkan salah satu gerai di Lotte shopping Avenue, Jakarta, Kamis 4 Juni 2020. Gubernur DKI Jakarta mengumumkan kegiatan sosial ekonomi di pusat perbelanjaan dibuka pada tanggal 15 Juni 2020. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Dibukanya pusat perbelanjaan atau mal di DKI Jakarta pada masa pembatasan sosial berskala besar atau PSBB transisi mulai Senin, 15 Juni 2020, dianggap tidak serta-merta menggairahkan subsektor ritel.

    "Saya pikir konservatifnya, perlu waktu bertahap untuk pulih seiring dengan tahapan transisi yang diatur pemerintah seperti dining in [makan di tempat] yang baru boleh 50 persen dari kapasitas," ujar Sekretaris Perusahaan PT Pakuwon Jati Tbk. Minarto Basuki pada Bisnis, Minggu, 7 Juni 2020.

    Aturan kapasitas pengunjung mal 50 persen pada masa transisi itu sesuai dengan Keputusan Gubernur Nomor 563 Tahun 2020. Meski demikian, Minarto mengatakan Pakuwon Jati selaku pengelola mal Gandaria City dan Kota Kasablanka berharap terjadi pemulihan yang lebih cepat dari proyeksi awal.

    Hal ini bisa dibandingkan dengan pengalaman negara-negara lain yang sudah dulu membuka operasional pusat perbelanjaannya di tengah kenormalan baru atau new normal.

    "Kita diuntungkan dengan middle class dan usia produktif yang besar dan punya demand yang cukup besar pula," katanya.

    Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta Ellen Hidayat mengatakan adanya aturan kapasitas pengunjung 50 persen dapat mempengaruhi pemulihan subsektor retail. Sebab, secara logika pendapatan akan berkurang lantaran dipengaruhi tingkat kunjungan.

    Menurut dia, dampak Covid-19 sebelumnya telah dirasakan oleh pengelola pusat belanja dan penyewa karena secara finansial tidak mendapatkan pendapatan sama sekali.

    "Kemudian juga dengan pengurangan tenaga kerja di mana banyak bisnis lainnya yang terkait dengan pusat belanja juga tidak bergerak," katanya. 

    Managing Partner of Strategic Advisory Coldwell Banker Tommy Bastami mengatakan pada masa awal pemulihan, kondisi pasar subsektor ritel diperkirakan masih melambat karena penyewa yang sudah ada akan berkonsentrasi pada gerai mereka saat ini dibandingkan dengan melakukan ekspansi. 

    Sementara itu, penyewa baru akan mengambil sikap melihat dan menunggu dalam mengantisipasi perilaku konsumen dalam masa pemulihan yang diprediksi akan lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.|

    Pada kuartal I 2020, Coldwell mencatat tingkat okupansi retail di Jakarta mencapai 91,2 persen, sedangkan Bogor, Depok, Bekasi (Bodebek) 85,1 persen, dan Tangerang sebesar 86,2 persen.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.