Menhub: KRL Tetap Beroperasi karena yang Naik Rakyat Kecil

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang bersiap menaiki KRL di Stasiun Depok Baru, Depok, Jawa Barat, Selasa, 28 April 2020. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperpanjang masa PSBB selama 14 hari untuk daerah Depok, Bogor, dan Bekasi yang dimulai efektif pada Rabu, 29 April 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Penumpang bersiap menaiki KRL di Stasiun Depok Baru, Depok, Jawa Barat, Selasa, 28 April 2020. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperpanjang masa PSBB selama 14 hari untuk daerah Depok, Bogor, dan Bekasi yang dimulai efektif pada Rabu, 29 April 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah untuk saat ini tidak akan menyetop operasional kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek. Keputusan itu menjawab permintaan sejumlah kepala daerah kepada pemerintah pusat untuk menonaktifkan kereta komuter setelah beberapa penumpang diketahui positif virus corona.

    "Saat ini KRL harus tetap dijalankan. Sebab, yang naik adalah rakyat kecil yang masih harus bekerja dan tidak work from home," tuturnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR, Rabu, 6 Mei 2020.

    Budi Karya menjelaskan, dengan tetap mengaktifkan KRL, masyarakat, khususnya yang termasuk golongan ekonomi bawah, bisa dilayani menggunakan angkutan dengan harga terjangkau. Bila operasional disetop, dia khawatir masyarakat kelas ini kesulitan lantaran harus menyewa angkutan ekslusif, seperti taksi dengan biaya yang relatif mahal.

    Kendati begitu, Budi Karya memastikan operator KRL, yakni PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), telah melakukan pengetatan pengawasan terhadap penumpang dan petugas yang berada di lingkungan stasiun maupun dalam kereta. Misalnya, penumpang kereta harus menggunakan masker untuk menekan penyebaran virus corona. Selanjutnya, petugas juga mesti mengecek suhu tubuh penumpang.

    Pada sepuluh stasiun pun dipastikan telah terpasang alat pemindai yang mampu mendeteksi suhu tubuh ratusan pengguna dalam waktu bersamaan. Sedangkan di sisi lain, operator menyediakan wastafel tambahan di titik yang sering dilalui pengguna KRL di 40 stasiun.

    Sementara itu, di dalam gerbong KRL, operator telah menyediakan sanitizer. Sebagai upaya lanjutan untuk menekan kepadatan penumpang, operator menerapkan prinsip jaga jarak fisik antar-penumpang.

    Berdasaarkan evaluasi PSBB DKI Jakarta, rata-rata jumlah penumpang harian KRL cenderung menurun. Pada saat jam sibuk, yakni pukul 08.00 WIB, jumlah penumpang pada semua lintas pelayanan mengalami penurunan dari 77.575 orang menjadi sekitar 55 ribu orang. Adapun total kapasitas angkut saat ini dibatasi maksimal 35 persen atau 60 penumpang per kereta atau sebanyak 61.248 penumpang tiap rangkaian.

    Sejak PSBB dilaksanakan, Budi Karya mengatakan jumlah penumpang KRL per hari tinggal 20 persen. "Dari 1 juta per hari jadi 200 ribu," tuturnya.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.