Pandemi Corona, BEI: Minat Perusahaan Melantai di Bursa Tak Surut

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memberi sambutan pada Peresmian Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2018 di Jakarta, Jumat 28 Desember 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada penutupan perdagangan saham tahun ini. IHSG 3,8 poin atau naik 0,062% ke 6.194. Tempo/Tony Hartawan

    Presiden Joko Widodo memberi sambutan pada Peresmian Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2018 di Jakarta, Jumat 28 Desember 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada penutupan perdagangan saham tahun ini. IHSG 3,8 poin atau naik 0,062% ke 6.194. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menilai aktivitas penawaran umum perdana alias IPO di pasar modal masih cukup baik di tengah masa wabah Virus Corona alias COVID-19. Meskipun, secara jumlah, angka tersebut turun ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

     

    "Kami melihat bahwa volatilitas pasar akibat pandemi tidak menyurutkan minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal," ujar Inarno dalam konferensi video, Jumat, 24 April 2020.

     

    Sejak merebaknya Corona di Tanah Air pada Maret lalu hingga 23 April 2020 tercatat ada sembilan perusahaan yang melakukan penggalangan dana dan mencatatkan sahamnya di BEI. Walaupun pada masa pandemi ini ada perubahan seremonial untuk perusahaan yang melantai di pasar modal. "Misalnya tidak ada pencet bel," tutur Inarno.

     

    Sejak awal tahun, kata Inarno, sudah ada 26 perusahaan anyar yang tercatat di bursa. Berdasarkan catatan hingga kemarin, ada 28 pencatatan efek baru yang berada di pipeline BEI. Ia berharap berbagai insentif, termasuk stimulus fiskal, untuk perusahaan terbuka bisa memberikan kemudahan bagi para emiten di tengah masa pagebluk ini.

     

    Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan dari 28 pencatatan efek baru yang berada di pipeline pasar modal, 18 di antaranya adalah dari saham dan sisanya adalah obligasi

     

    Nyoman berharap perusahaan-perusahaan yang sudah berada di antrean untuk melantai di bursa bisa masuk ke pasar modal sesuai rencana hingga akhir tahun ini. Ia memperkirakan jumlah perusahaan baru yang tercatat di bursa akan lebih sedikit ketimbang pada 2018 yang mencapai 57 perusahaan atau 2019 yang mencapai 55 perusahaan.

     

    "Kami harus realistis melihat kondisi yang ada, dengan kondisi saat ini yang ada di pipeline kami upayakan tercatat, tapi kualitas kami jaga," ujar Nyoman. Kalau dari sisi perusahaan ada yang mesti diperbaiki dan menyebabkan waktu melantai mundur, maka itu akan tetap dipersilakan. "kami tidak hanya kejar angka tapi juga kualitas."

     

    Secara jumlah, Nyoman mengatakan angka perusahaan anyar yang tercatat di bursa per Maret 2020 termasuk yang terbanyak apabila dibandingkan dengan sejumlah negara di ASEAN.

     

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.