Luhut Pandjaitan dan Asal Kata Dhoho untuk Bandara Kediri

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (kanan) berbincang dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya saat menghadiri Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019. TEMPO/Nurdiansah

    Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (kanan) berbincang dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya saat menghadiri Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan berharap pembangunan Bandara Dhoho di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, bisa selesai tepat waktu. Sebab, manfaatnya banyak untuk masyarakat Kabupaten Kediri dan wilayah Mataraman lainnya.

    "Sehingga sesuai namanya, Dhoho, yang diambil dari kata 'Dahanaputra' yang berarti 'Kota Api', Bandara Dhoho di Kabupaten Kediri mampu menggelorakan roda perekonomian masyarakat wilayah Mataraman khususnya di sektor industri, kuliner dan pariwisata yang akan membawa dampak signifikan bagi peningkatan taraf hidup masyarakat di Kabupaten Kediri dan Kabupaten lain di sekitarnya," katanya seperti dikutip dari jejaring sosial Facebook miliknya, Rabu, 16 April 2020.

    Pemerintah dan PT Gudang Garam, Tbk, Kediri, secara resmi melakukan groundbreaking pembangunan bandar udara secara virtual di Kabupaten Kediri. Kegiatan dilakukan lewat video conference yang diikuti para pejabat baik dari pemerintah maupun dari Gudang Garam.

    Luhut mengakui, wilayah "Mataraman" di Jawa Timur selalu membawa cerita indah tersendiri untukya. Sekitar 20 tahun lalu, ia ditugaskan menjadi Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya di Kota Madiun hingga meraih prestasi sebagai Komandan Korem Terbaik di Indonesia saat itu.

    Ia juga mengatakan pembangunan Bandara Dhoho Kediri yang pencanangannya diresmikan secara virtual tersebut juga membawa banyak cerita unik dalam proses perjalanannya hingga saat ini.

    Bupati Kediri Ibu Haryanti Sutrisno sempat bercerita kepadanya tentang jalan panjang yang ditempuh untuk mewujudkan cita-cita besar Kabupaten Kediri yang ingin punya bandara sejak 13 tahun silam.

    Hal itu berkaca pada Kabupaten Malang dengan Bandara Abdul Rachman Saleh yang setiap hari punya 14 rute penerbangan dari dan menuju Malang. Jika Kabupaten Kediri punya bandara, jumlah rute penerbangan akan bisa lebih banyak lagi. Sebab, kabupaten-kabupaten lain di sekitar Kediri seperti Tulungagung, Blitar, Trenggalek, Madiun, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Nganjuk, dan Magetan, bisa memanfaatkan bandara ini.

    "Karena seperti yang kita ketahui bersama, wilayah kantung Jawa Timur atau Mataraman saat ini hanya punya akses transportasi berupa rangkaian kereta api dan bus antarkota saja. Dengan adanya Bandara Dhoho di Kabupaten Kediri, maka akan membuka alternatif jalur transportasi yang cepat dari dan ke wilayah Mataraman dan dengan perkiraan mampu menyerap 1,5 juta penumpang setiap tahunnya," papar dia.

    Dia mengatakan Bandara Dhoho Kediri adalah proyek bandara pertama di Indonesia yang dibangun dengan 100 persen dana investasi swasta, yaitu PT Surya Dhoho Investama, yang merupakan bagian dari anak perusahaan PT Gudang Garam Tbk Kediri, dengan menggunakan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) khusus.

    Kementerian Perhubungan memberikan hak konsesi pengelolaan Bandara Kediri kepada Gudang Garam dengan PT Angkasa Pura I sebagai pengelola operasionalnya, sambil menunggu perjanjian kontrak operasi (KSO) untuk pembentukan badan usaha bandar udara (BUBU).

    Ia menambahkan, Direktur PT Gudang Garam Istata Taswin Siddharta juga menceritakan harapannya agar bandara ini dapat berkontribusi dalam upaya mempercepat pembangunan dan pengembangan daerah Kediri dan wilayah sekitar Mataraman.

    "Bapak Taswin mengatakan kepada saya bahwa pembangunan bandara Dhoho yang berdiri di atas lahan seluas 400 hektare ini adalah investasi jangka panjang secara nasional dari PT Gudang Garam yang dipersembahkan khusus untuk pengembangan masyarakat di Kabupaten Kediri," kata dia.

    Di Mataraman juga termasuk daerah dengan penyumbang TKI terbesar di Indonesia seperti Blitar dan Ponorogo. Untuk itulah, ia berharap dengan adanya Bandara Dhoho Kediri ini, para pahlawan devisa Indonesia akan semakin mudah untuk mudik ke kampung halaman mereka tanpa harus berlama-lama menempuh perjalanan dari Jakarta.

    Bandara Dhoho ini juga diproyeksikan sebagai bandara internasional ke depannya, sehingga dengan berbagai manfaat inilah akhirnya Presiden Joko Widodo menyetujui dan memasukkan Bandara Dhoho Kediri sebagai salah satu proyek strategis nasional yang pengerjaannya akan dilakukan selama dua tahun dari sekarang.

    Selain itu, fakta penting lain yaitu beberapa pondok pesantren terbaik di negeri ini ada di Kabupaten Kediri, seperti PP Lirboyo dan PP Darul Ma'rifat Gontor 3, yang dikenal banyak menghasilkan santri-santri dan ulama-ulama terbaik kebanggaan Indonesia.

    "Dengan adanya Bandara Dhoho di Kediri, para santri yang hendak meneruskan studi mereka ke universitas ternama di luar negeri bisa semakin mudah keberangkatannya. Selain itu saya juga ingin Bandara Dhoho Kediri ini bisa diperuntukkan bagi keperluan ibadah haji dan umroh, sehingga para jamaah haji yang berasal dari wilayah Mataraman tidak harus menuju Surabaya terlebih dahulu untuk berangkat ke tanah suci Mekkah, karena di Kediri sudah ada Bandara Internasional," kata Luhut.

    Ia juga ingin agar ke depan pembangunan Bandara Dhoho Kediri ini bisa selesai tepat pada waktunya mengingat banyak manfaat yang akan didapat oleh masyarakat Kabupaten Kediri dan wilayah Mataraman lainnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).