Minyak Fluktuatif, Moody's Beberkan Dampaknya ke Perusahaan Migas

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang lelaki berdiri dekat dengan kilang Cardon, milik perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA di Punto Fijo, Venezuela 22 Juli 2016. [REUTERS]

    Seorang lelaki berdiri dekat dengan kilang Cardon, milik perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA di Punto Fijo, Venezuela 22 Juli 2016. [REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga pemeringkat Moody's dalam laporan terbarunya menyatakan volatilitas harga minyak dan gas alam yang tinggi langsung berimbas kepada perusahaan eksplorasi dan produksi (E&P) dan ladang minyak atau oilfields services (OFS). Khususnya perusahaan yang menghadapi kebutuhan pembiayaan kembali dalam 6 hingga 12 bulan ke depan.

    Sebaliknya, kata Moody's, sektor midstream meraup keuntungan dari paparan harga komoditas yang rendah dan kontrak perlindungan untuk mengumpulkan, mengangkut, dan menyimpan hidrokarbon. Sektor penyulingan diuntungkan dari penurunan tajam harga bahan baku dengan berkurangnya permintaan untuk produk bahan bakar pada tahun 2020.

    Penyebaran virus Corona telah secara signifikan memperlambat kegiatan ekonomi di seluruh dunia karena langsung memangkas permintaan untuk minyak dan produk minyak, terutama pada paruh pertama 2020. Meski begitu, Moody's memperkirakan gangguan rantai pasokan akibat terhadap produsen minyak AS dan perusahaan OFS kurang signifikan. 

    "Skenario kasus dasar kami mengasumsikan bahwa rumah tangga dan bisnis di Cina akan mulai melanjutkan aktivitas normal pada pertengahan tahun," tulis Moody's dalam laporan berjudul "Low Oil Prices Heighten Financial Risk in 2020" yang dirilis, Rabu, 11 Maret 2020. 

    Perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi menjadi tantangan baru bagi perekonomian dunia yang masih berjuang bangkit dari wabah virus corona (Covid-19). Harga minyak jeblok hingga 20 persen menjadi kurang dari US$ 35 per barel itu cukup mengejutkan pasar dan produksi minyak global. 

    Sementara itu, Morgan Stanley melihat sedikitnya ada tiga hal yang terdampak perang harga minyak. Pertama, berdampak negatif prospek belanja modal untuk sektor terkait minyak serta negara-negara penghasil minyak. 

    Kedua, produsen minyak kemungkinan akan bereaksi negatif, yang mengarah pada pengetatan kondisi keuangan lebih lanjut. Ketiga, harga minyak yang lebih rendah akan turun ke harga eceran yang juga lebih murah.

    Morgan Stanley beralasan, beban minyak yang lebih rendah pada konsumen kemungkinan tidak akan sepenuhnya menyebabkan kenaikan tingkat konsumsi itu dalam waktu dekat. Sebab, kenaikan tingkat konsumsi ini akibat dampak volatilitas ekonomi dan pasar keuangan secara keseluruhan.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?