Turis Sepi karena Virus Corona, Wishnutama Akui Pegawai Hotel di Bali Diliburkan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio saat jumpa media di Oeang Coffee Roastery, Jakarta Selatan, 5 November 2019. TEMPO/Bram Setiawan

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio saat jumpa media di Oeang Coffee Roastery, Jakarta Selatan, 5 November 2019. TEMPO/Bram Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio membenarkan informasi yang menyatakan sejumlah pegawai hotel dan restoran di Bali diliburkan untuk sementara waktu. Kebijakan itu merupakan respons yang diambil pelaku usaha akibat sepinya kunjungan wisatawan asing pasca-mewabahnya virus corona.

    "Iya ada (yang diliburkan). Kemarin saya ke Bali dan sudah bicara dengan industri di sana," ujar Wishnutama di kantornya pada Selasa petang, 18 Februari 2020.

    Wishnutama belum memperoleh detail informasi mengenai jumlah pegawai yang diliburkan. Namun, ia memastikan telah berkomunikasi dengan pemerintah setempat untuk mengambil langkah-langkah mitigasi.

    Kabar diliburkannya sejumlah karyawan hotel dan restoran itu sebelumnya diungkapkan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka. Dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Tjokorda menyatakan hotel dan restoran mengalami penurunan kunjungan dengan persentase bervariasi di tiap kecamatan.

    Di Ubud, misalnya, penurunan kunjungan mencapai 3-5 persen. Kemudian di Sanur melorot hingga 10 persen. Tjokorda melanjutkan, penurunan kunjungan di Kuta tercatat paling besar. Namun, ia tak menyebutkan besaran persentasenya.

    "Hal ini menyebabkan lesunya aktivitas pariwisata di sejumlah kawasan sehingga beberapa restoran dan hotel mengambil langkah meliburkan pegawainya," tutur Tjokorda.

    Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Provinsi Bali Putu Astawa mengatakan daerahnya tengah menderita potensi kerugian imbas mewabahnya virus corona. Menurut Putu, potensi kerugian tersebut berasal dari pembatalan paket wisata turis Cina yang tercatat mencapai US$ 6 juta atau Rp 82 miliar (kurs Rp 13.680).

    "Berdasarkan data dari agen travel yang kami dapat, pembatalan paket wisman Cina pada periode ini mencapai 20 ribu orang dengan rencana kedatangan lima hari," tutur Putu saat dihubungi Tempo pada 8 Februari lalu.

    Kerugian senilai Rp 82 miliar tersebut dihitung dari total pembatalan pesanan paket wisata dikalikan dengan rata-rata spending atau pengeluaran wisman. Menurut Putu, rerata pengeluaran wisman per lima hari kunjungan mencapai US$ 300 atau Rp 4,1 juta.

    Kerugian makin terasa lantaran virus corona mewabah saat Cina memasuki masa peak season atau masa ramai kunjungan karena Imlek. Biasanya, kata Putu, tingkat kunjungan wisman Cina di Bali memuncak pada masa-masa ini.

    Adapun menurut Putu, daerah wisata di Bali yang paling terpukul dengan mewabahnya virus corona ialah Nusa Penida, Nusa Lembongan, serta kawasan destinasi yang menyajikan pantai. Selain itu, paket cruise atau kapal pelayaran dan restoran seafood turut terhantam. Sebab, menurut dia, karakter wisman asal Cina umumnya menggemari panorama hingga hidangan bernuansa laut.

    Putu memprediksi, melorotnya tingkat kunjungan wisman Cina ini akan berpengaruh terhadap realiasi kunjungan turis Bali secara keseluruhan pada akhir 2020. "Karena porsi kunjungan turis Cina ini terbanyak kedua setelah Australia," tuturnya.

    Pada 2019, kunjungan wisman Cina ke Bali tercatat sebanyak 1,18 juta orang. Kontribusi kunjungan tersebut mencapai 18 persen dari total jumlah wisman yang masuk ke Bali dalam satu tahun.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.