Luhut Minta Ilmuwan Muda RI di Amerika Bantu Program Penghiliran

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, saat mengunjungi Kantor Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin, 6 Januari 2020. Tempo/Egi Adyatama

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, saat mengunjungi Kantor Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin, 6 Januari 2020. Tempo/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Washington - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan peran dan kontribusi ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia sangat dibutuhkan dalam program penghiliran di Tanah Air. Hal itu dia sampaikan saat melakukan makan malam bersama tiga peneliti muda dari Indonesia yang bermukim di Amerika Serikat.

    "Indonesia saat ini banyak dilirik oleh negara-negara lain, dalam program penghiliran maupun membantu memajukan teknologi nasional. Dalam banyak bidang, seperti kelapa sawit, nikel, dan masih banyak lagi. Akibatnya ekonomi kita itu tidak cepat pertumbuhannya karena tidak ada nilai tambah," kata Luhut dalam keterangan tertulis, Kamis, 14 Februari 2020.

    Oleh karena itu, kata dia, saat ini pemerintah sedang menggalakkan penggunaan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN dan penghiliran agar ada nilai tambahnya. Menurut Luhut, para ilmuwan yang sukses di luar negeri bisa kembali ke Indonesia untuk menjadi bagian dari program itu, karena kalau teknologinya tidak maju, pasti akan ketinggalan.

    "Pengalaman saya berhubungan dengan negara-negara maju, penghiliran dan pemberdayaan teknologi dalam negeri ini malah banyak mendapat hambatan dari para negara-negara maju itu. Seperti kasus sawit dan pelarangan ekspor nikel," ujarnya.

    Ketiga ilmuwan itu, menurut Luhut, juga bisa menerapkan ilmunya pada pembangunan ibu kota baru. Mereka adalah Oki Gunawan, 43 tahun, seorang peneliti senior IBM yang menyelesaikan studi S3 nya di Universitas Princeton.

    Oki memperlihatkan hasil penemuan terbarunya yaitu alat sensor gempa. Ia pun telah memiliki paten dan telah sukses menciptakan rumus baru dalam ilmu fisika.

    Ilmuwan kedua adalah Jonathan Mailoa, yang masih berusia 30 tahun. Lulusan S3 dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) melakukan penelitian di bidang lithium baterai.

    Terakhir Rezi Pradipta, 36 tahun yang juga lulus S3 dari MIT yang sekarang menjadi dosen dan peneliti di Boston College. Ia saat ini sedang melakukan penelitian di cuaca antariksa, ia sedang melakukan penelitian bersama LAPAN Bandung.

    Luhut tidak meminta para ilmuwan itu berhenti dari pekerjaan saat ini, tetapi mungkin mereka bisa cuti untuk beberapa lama untuk tinggal dan membantu Indonesia. Pada acara tersebut para ilmuwan juga diberi informasi tentang situasi ekonomi dan politik di Indonesia.

    "Kalau di era perang dagang ini, Indonesia tentu pada posisi yang menguntungkan karena Amerika dan Cina sama-sama sedang mencari di mana mereka akan 'menaruh' uang mereka. Satu saja yang saya tekankan kepada mereka, jangan ganggu kedaulatan Indonesia. Kami akan mempertahankan harkat dan martabat kami dan ini tidak bisa ditawar apalagi ditekan," ujar Luhut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.