Aset Disita Kejaksaan Agung, Manajemen TRAM Sebutkan Dampaknya

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas keamanan Kejaksaan Agung saat melihat kendaraan hasil sitaan dari tersangka korupsi PT Asuransi Jiwasraya yang terparkir di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat, 17 Januari 2020. Hasil sitaan tersebut didapat setelah melakukan penggeledahan dari kediaman tersangka, yakni mantan Dirut  PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Dirut Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Hary Prasetyo dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Syahmirwan. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Petugas keamanan Kejaksaan Agung saat melihat kendaraan hasil sitaan dari tersangka korupsi PT Asuransi Jiwasraya yang terparkir di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat, 17 Januari 2020. Hasil sitaan tersebut didapat setelah melakukan penggeledahan dari kediaman tersangka, yakni mantan Dirut PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Dirut Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Hary Prasetyo dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Syahmirwan. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Emiten pertambangan batu bara PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM) menjelaskan dampak penyitaan Kejaksaaan Agung atas sejumlah aset entitas usaha terhadap operasional perusahaan. 

    Dalam keterbukaan informasi, Direktur Trada Alam Minera Ismail menyampaikan Kejaksaan telah melakukan melakukan penggeladahan dan penyitaan terhadap entitas perusahaan, yakni PT Gunung Bara Utama (GBU) di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

    Kejagung melakukan penyitaan aset terhadap GBU karena diduga Komisaris Utama TRAM Heru Hidayat, merupakan pemilik TRAM sekaligus GBU.

    “Tersangka Heru Hidayat per 31 Januari 2020 hanya memiliki saham TRAM sebesar 14,21 persen melalui PT Graha Resources. Heru juga bukan pemegang saham GBU,” paparnya, Kamis 13 Februari 2020. 

    Ismail menuturkan pihaknya perlu menegaskan bahwa GBU merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan TRAM. Trada Alam Minera sendiri merupakan perusahaan publik yang bertanggung jawab terhadap stake holder dan masyarakat.

    Adapun, sejumlah aset GBU yang disita Kejagung adalah kendaraan operasional berupa mobil dan truk, fotokopi dokumen perusahaan, 1 unit kantor, 1 unit conveyor, serta 1 unit genset. 

    “Terhadap aset yang dilakukan penyitaan oleh Kejagung, kami masih belum menentukan berapa nilai aset tersebut,” imbuhnya.

    Terkait dampak penyitaan aset, operasional kegiatan penambangan GBU terganggu. Namun demikian, perusahaan berusaha menjalankan kegiatan seperti biasa dan berusaha meredam gejolak akibat penyitaan.

    Berdasarkan catatan Bisnis.com, per Juli 2018 tambang GBU memiliki cadangan batu bara sebesar 65 juta ton. Produk yang dihasilkan termasuk kalori tinggi, sehingga cocok untuk pasar ekspor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.