Hasil Investigasi Tumpahan Minyak Pertamina Tunggu Halliburton

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Pesisir Pantai Mekarjaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis, 8 Agustus 2019. Pertamina telah berhasil mengatasi tumpahan minyak mentah dengan mengumpulkan 1,047 juta karung shoreline yang mencapai 4900 ton dengan rata-rata 4,6 kg per karung berisi maksimal 10 persen minyak mentah

    Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Pesisir Pantai Mekarjaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis, 8 Agustus 2019. Pertamina telah berhasil mengatasi tumpahan minyak mentah dengan mengumpulkan 1,047 juta karung shoreline yang mencapai 4900 ton dengan rata-rata 4,6 kg per karung berisi maksimal 10 persen minyak mentah "Oil Spill", yang selebihnya pasir dan batu. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyarakan masih menunggu data evaluasi dari Halliburton, terkait investigasi terhadap tumpahan minyak Pertamina. Perusahaan jasa migas asal Amerika Serikat itu saat ini tengah merampungkan data evaluasi tumpahan minyak di sumur YYA-1 untuk menyelesaikan proses investigasi.

    Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengatakan, laporan dari PT Pertamina (Persero) sudah masuk pada 31 Desember 2019. Dari hasil rapat terakhir, SKK Migas tinggal menunggu paparan data dari kontraktor yang digunakan oleh Pertamina tersebut. 

    "Laporan Pertamina baru di-submit 31 desember 2019 ke kami, itu pun baru executive summary-nya. Pertamina terbuka, tapi kita lihat datanya belum lengkap karena data dari Halliburton belum dikirimkan," tuturnya, Rabu 15 Januari 2020.

    Adapun tahap evaluasi investigasi terus berlangsung dengan melibatkan tim independen dari kalangan akademisi ataupun Pertamina. 

    Sementara itu, Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Kementerian ESDM Adhi Wibowo memastikan, tumpahan minyak terjadi akibat ledakan prematur yang terjadi di kedalaman sekitar 700 kaki. Padahal, seharusnya ledakan baru terjadi di kedalaman sekitar 6.000 kaki.

    Ledakan itu menyebabkan kerusakan pipa dan merusak formasi lapisan tanah sehingga anjungan ikut miring. "Kami masih teliti kenapa ini terjadi ledakan prematur. Bisa saja terjadi di formasi karena ada tekanan sehingga menyebabkan [ledakan]. Sudah confirm[kedalaman ledakan] karena diturunkan kamera," katanya.

    Adhi menambahkan pihaknya masih menganalisis kenapa ledakan prematur ini terjadi. Hal ini dilakukan agar ke depan kecelakaan serupa tidak terjadi lagi. "Apakah nanti ada perubahan SOP atau apa, kami tidak mencari siapa yang salah," katanya.

    Dia menambahkan investigasi memerlukan waktu 1 bulan ke depan hingga pemerintah merilis hasil evaluasi investigasi tumpahan minyak Pertamina ini. Adapun tim independen yang dimaksud adalah Tim Independen Pengendalian Keselamatan Migas (TIPKM).

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.