Atasi Banjir, Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai jadi Prioritas

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tumpukan sampah terlihat di pintu air Manggarai, Jakarta, Jumat, 3 Januari 2020. Sampah yang terbawa dari aliran sungai Ciliwung tersebut didominasi oleh sampah rumah tangga dan potongan kayu atau ranting pohon. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Tumpukan sampah terlihat di pintu air Manggarai, Jakarta, Jumat, 3 Januari 2020. Sampah yang terbawa dari aliran sungai Ciliwung tersebut didominasi oleh sampah rumah tangga dan potongan kayu atau ranting pohon. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) angkat bicara soal banjir yang melanda sejumlah titik di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi atau Jabodetabek.

    Terkait hal ini, KLHK menyatakan bakal terus memprioritaskan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) termasuk Ciliwung dan Cisadane, menurut pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Hudoyo.

    "Kami di seluruh Indonesia merehabilitasi terutama di DAS prioritas, dan Ciliwung, Cisadene, Citarum dan lain-lain. Itu DAS prioritas," kata Hudoyo ketika dihubungi di Jakarta, Jumat, 3 Januari 2020. "Sayangnya memang kemampuan APBN kita itu tidak sebanding dengan kekritisan lahan di daerah tersebut."

    Hudyo lalu mencontohkan bagaimana tutupan di hulu DAS Ciliwung dan Cisadane hanya mencapai 18.296 hektare (ha) atau 38,2 persen saja dari total luas kawasan hutan. Sementara luasan itu hanya 4,1 persen dari total luas DAS Ciliwung dan Cisadane dari hulu hingga hilir yang bervegetasi. 

    Sisanya, ujar Hudoyo, adalah areal penggunaan lain (APL)  yang mana KLHK tidak bisa memaksakan untuk meminta dilakukan rehabilitasi di wilayah DAS tersebut. Kebanyakan tanah itu dimiliki oleh masyarakat, karena dirinya mengharapkan peran pemerintah daerah yang lebih besar untuk mendorong  rehabilitasi kawasan tersebut. 

    Terkait permasalahan banjir yang terjadi di daerah Jakarta dan beberapa kawasan sekitarnya seperti Bogor dan Depok, menurut Hudoyo, curah hujan yang tinggi dan pengalihan fungsi lahan turut berperan dalam kejadian tersebut. Selain itu terdapat lintasan air dari Bogor dan Depok serta bagian lereng DAS Ciliwung berupa kipas aluvial yang merupakan tanah lempung yang gampang mengalirkan air.

    Penyebab banjir yang lain adalah hilangnya situ dan alih fungsi rawa. "Semua itu sekarang sudah berubah jadi lahan pemukiman, kantor dan lain-lain yang tertutup beton. Selain itu sistem drainase kita cukup buruk," ujar Hudoyo. Dia mencontohkan bagaimana beberapa sungai tidak mampu lagi menampung volume air ada akibat curah hujan yang tinggi.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.