BPS Ingatkan Harga Tiket Pesawat Berpotensi Sumbang Inflasi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto berbicara kepada wartawan, sesuai pemaparan Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2018, di Kantor Badan Pusat Statistik, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin 29 Juli 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto berbicara kepada wartawan, sesuai pemaparan Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2018, di Kantor Badan Pusat Statistik, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin 29 Juli 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Suhariyanto menyatakan inflasi pada Desember 2019 diperkirakan naik seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Perkiraan ini sejalan dengan permintaan yang meningkatkan karena adanya perayaan Natal dan tahun baru.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan beberapa komponen yang bakal memengaruhi tingkat inflasi beberapa bulan terakhir adalah komoditas makanan (volatile food) yang terpengaruh cuaca. Selain itu, harga tiket pesawat bulan depan juga patut diwaspadai bakal menyumbang inflasi.

    "Saya pikir beras akan stabil, mungkin yang perlu diwaspadai seperti biasanya adalah angkutan udara. Biasanya ketika permintaan angkutan udara naik itu tiket juga akan menanjak naik sesuai permintaan," ujar Suhariyanto saat mengelar konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin 2 Desember 2019.

    BPS mencatat angka inflasi sepanjang November 2019 mencapai 0,14 persen. Sedangkan secara tahunan (yoy) angka inflasi mencapai 3 persen sedangkan inflasi tahun kalender (sepanjang Januari-November) 2019 mencapai 2,37 persen.

    Secara bulanan, inflasi November ini naik dibandingkan Oktober yang mencapai 0,02 persen. Namun secara tahunan inflasi November lebih rendah dibandingkan Oktober yang mencapai 3,13 persen. Inflasi bulan Oktober, utamanya karena kenaikan harga pada kelompok makanan jadi seperti nasi dan lauk pauk, serta rokok.

    Suhariyanto menjelaskan, secara tren dua tahun ini misalnya, Desember biasanya memang menjadi salah satu perhatian karena bisa dipastikan inflasinya cukup tinggi. Selain Desember, tren inflasi tinggi juga terjadi saat bulan ramadan dan juga Idul Fitri.

    Menurut Suhariyanto, pola Ramadan, Idul Fitri dan Desember terjadi inflasi cukup tinggi merupakan pola pasti di Indonesia selama Januari hingga Desember. Jika pada bulan Ramadan dan Idul Fitri, pergerakan harga yang baik biasanya terpantau gradual, namun jika Desember biasanya naik secara langsung.

    "Kalau Desember di negara mana pun selalu menjadi perhatian karena permintaan konsumen biasanya akan mengalami peningkatan, apalagi ada liburan sekolah di sana, persiapan Natal, tahun baru," kata Suhariyanto.

    Karena itu, lanjut Suhariyanto, bisa dipastikan bahwa angka inflasi Desember lebih tinggi dibandingkan November maupun bulan lainnya. Sebagai, gambaran pada 2018 inflasi Desember secara bulanan mencapai 0,62 persen dan tahunan mencapai 3,13 persen. Sedangkan pada Desember 2017, inflasi bulan mencapai 0,71 persen dan tahunan mencapai 3,61 persen.

    DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.