Menhub Cari Pemasok Avtur dari Swasta, Garuda Mau Beli?

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur pada pesawat Garuda pengangkut jemaah haji di Bandara Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 25 Agustus 2015. Stok avtur setiap harinya sebesar 3500 KL, jumlah ini mencukupi untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kedua maskapai penerbangan untuk pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji sebanyak 214 kolter. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur pada pesawat Garuda pengangkut jemaah haji di Bandara Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 25 Agustus 2015. Stok avtur setiap harinya sebesar 3500 KL, jumlah ini mencukupi untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kedua maskapai penerbangan untuk pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji sebanyak 214 kolter. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berencana membuka opsi adanya pemasok bahan bakar avtur selain Pertamina agar menyediakan harga yang lebih kompetitif.

    Menanggapi hal tersebut Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan, sebagai konsumen pihaknya tidak menutup kemungkinan akan membeli bahan bakar yang lebih murah demi efisiensi biaya produksi maskapainya.

    "Jangan berandai-andai, kita kan pembeli fakta ajalah. (Misal) ini bakwan ada yang harga Rp 1000, ya nanti ada bakwan Rp 500, kita lihat saja nanti," kata dia di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Selasa, 26 November 2019.

    Dia hanya berharap harga avtur pada masa liburan natal dan tahun baru tidak alami lonjakan, agar biaya produksinya tetap sesuai perhitungan perseroannya. "Avtur mudah-mudahan enggak naik," ucapnya.

    Sebelumnya, Direktur Operasi Garuda Indonesia Group Bambang Adisurya Angkasa mengeluhkan perusahaannya tengah menanggung beban keuangan yang berat yang berakibat penutupan sejumlah rute seperti Batam, Jambi, dan Sulawesi Utara.

    “Kami mengalami beban berat. Karena sebagai perusahaan BUMN, Garuda tidak hanya mencari untung,” ujar Bambang dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 25 November 2019.

    Selain menyediakan angkutan komersial reguler, Bambang menyatakan Garuda Indonesia memiliki tugas melayani penerbangan ke daerah-daerah remote atau perintis. Adapun ongkos operasional penerbangan tersebut umumnya ditopang oleh subsidi silang dari maskapai.

    Kemudian Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di tempat yang sama mengungkapkan sejumlah akar masalah penutupan rute di beberapa bandara. Ia mengatakan, saat ini maskapai terkendala oleh tingginya harga avtur dengan patokan harga yang berbeda-beda di setiap daerah.

    “Selanjutnya karena load factor beberapa rute seperti Manado, Naha, Melangguane, Mingas, Kao, dan Marowali-Kendari rendah,” ujarnya.

    Budi Karya berjanji bakal menemui Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Erick Thohir untuk menyeimbangkan kembali harga avtur. Upaya ini dilakukan guna menekan ongkos maskapai.

    EKO WAHYUDI | FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?