Konsumsi Ikan Baru 51 Kg per Kapita, KKP: Belum Capai Target

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Selain bias membeli dari nelayan, di Pantai Depok terdapat pasar ikan segar. Untuk memasaknya banyak warung yang menyediakan jasa memasak. TEMPO/Shinta Maharani

    Selain bias membeli dari nelayan, di Pantai Depok terdapat pasar ikan segar. Untuk memasaknya banyak warung yang menyediakan jasa memasak. TEMPO/Shinta Maharani

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Agus Suherman mengatakan target konsumsi ikan tahun ini belum tercapai. Dia mengatakan target konsumsi ikan 2019 per kapita sebesar 54 kilogram.

    "Per Oktober kita sudah sampai 50,49 kilogram per kapita, hampir 51 kilogram," kata Agus dalam Festival Perikanan Nusantara di Monumen Nasional atau Monas, Jakarta, Ahad, 24 November 2019.

    Sedangkan, kata dia, untuk 2020 pemerintah mengejar ke angka 56 kg per kapita. Dia menilai potensi perikanan di Indonesia masih luar biasa, karena itu bisa jumlah tersebut bisa meningkat.

    KKP, kata dia, terus menggaungkan kepada masyarakat untuk gemar memakan ikan. "Gemar makan ikan bisa mengatasi stunting. Ini penting bagi generasi muda," kata Agus.

    Salah satu strategi mencapai target, yaitu dengan menggandeng Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini Seluruh Indonesia. Menurut dia, perlu dilakukan pengenalan gemar makan ikan sejak generasi usia dini.

    "Mereka akan mengenal dan sudah tahu tentang pentingnya mengkonsumsi ikan untuk kesehatan mereka juga kecerdasan mereka juga dan kekuatan mereka," kata dia.

    Ditambah, kata dia, sampai hari ini harga ikan relatif tidak mahal. Karena itu, bisa diakses seluruh masyarakat. "Baik ikan air tawar laut, di pasar pasar ikan kita juga menggerakkan pasar ikan kita hadirkan di tengah kota," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.