Afifuddin Kalla: Bahlil Lahadalia Mampu Emban Amanah

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bahlil Lahadalia tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 20 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    Bahlil Lahadalia tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 20 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya (HIPMI Jaya), Afifuddin Suhaeli Kalla menilai pengalaman Bahlil Lahadalia dalam memimpin berbagai organisasi akan membuatnya mampu mengemban amanah sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

    “Saya yakin dengan pengalaman beliau dalam bidang usaha dan organisasi yang selama ini dijalankan akan mampu mengemban amanah dengan baik," kata Afifuddin (Afie) Kalla di Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019, menanggapi terpilihnya mantan Ketua Umum HIPMI Bahlil Lahadalia ke dalam jajaran kabinet Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin.

    Afie menjelaskan sebelum menjabat Ketua Umum BPP Hipmi, Bahlil yang lahir di Banda, Maluku Tengah, Maluku, pada 7 Agustus 1976 itu merupakan pemilik PT Rifa Capital Holding Company.

    Perusahaan Bahlil masuk ke berbagai sektor usaha, dari perkebunan, properti, transportasi, pertambangan, hingga konstruksi. Namun, sebelum sukses menjadi pengusaha, perjalanan karier pria lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Mumbai, Jayapura, Papua, itu terbilang sulit.

    Bahlil pernah menjadi sopir angkot dan penjual koran. Namun, kerja kerasnya mampu membawa dia menjadi pengusaha nasional.

    Menurut Afie Kalla, Bahlil bukan orang asing bagi Jokowi. Bahkan, Jokowi kerap memanggil Bahlil dengan sebutan adinda. "Saya kira setelah resmi jadi Kepala BKPM, tugas berat akan menanti Bahlil. Dia harus mampu menarik investor agar mau menanamkan modalnya di Indonesia," ujar Afie Kalla.

    Afie menjelaskan selama ini permasalahan yang dihadapi oleh dunia usaha sangat bervariasi namun demikian dapat dikelompokkan menjadi lima pokok.

    Lima pokok itu, jelas Afie, (1) akses pasar; (2) kelemahan dalam pendanaan dan akses pada sumber pembiayaan; (3) kelemahan dalam organisasi dan manajemen, (4) kelemahan dalam kapasitas dan penguasaan teknologi, serta (5) kelemahan dalam membangun jaringan usaha.

    Afie berharap dengan terpilihnya Bahlil sebagai Kepala BKPM permasalahan tersebut bisa segera teratasi. "Beliau punya pengalaman memimpin HIPMI yang tersebar di 34 provinsi dan jaringan pengusaha muda yang ada di luar negeri yang selama ini aktif dalam membangun dan mencetak pengusaha muda baru sehingga indeks pengusaha muda di Indonesia yang tadinya hanya 1,67 persen menjadi 3-4 persen pada 2018 dari total jumlah penduduk Indonesia," ujar Afie Kalla.

    “Bang Bahlil sebagai wakil menteri millenial, saya yakin akan mudah mencari investor dari luar negeri, karena selama ini Bang Bahlil ketika memimpin HIPMI selalu bersinggungan dengan dunia digital, dunia anak muda. Dimana hampir semua usaha sekarang bersinggungan dengan dunia digital, baik itu di dalam maupun luar negeri," tutup Afie.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.