Menjelang Akhir Masa Jabatan, JK Pamit kepada 100 Ekonom

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memberikan sambutan dalam acara Gerakan Nasional

    Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memberikan sambutan dalam acara Gerakan Nasional "Ignite The Nation 1000 Start up Digital Indonesia" di Istora Senayan, Jakarta Selatan, Ahad 18 Agustus 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Jusuf Kalla alias JK menyampaikan pidato perpisahannya sebagai Wakil Presiden RI saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bersama 100 ekonom pada Kamis, 16 Oktober 2019, di The Westin, Jakarta Pusat. Dalam pidato tersebut, JK menjelaskan bahwa masa jabatannya akan berakhir dalam dua hari ke depan. 
     
    "Hari ini saya sudah mendengarkan dan bertemu banyak teman. Hari ini sisa dua hari kerja saya di pemerintahan. Saya terima kasih. Ini pidato terakhir saya di acara teman-teman,” ujarnya disambut semu-semu suara tepuk tangan. 
     
    JK banyak menyampaikan gagasan terkait kondisi perekonomian dari masa ke masa. Ia bercerita bahwa kondisi ekonomi bersifat dinamis dan makin berkembang lantaran kebijakan global berubah-ubah. Perubahan kondisi itu menyebabkan pemerintah mesti membentuk kebijakan moneter dan kebijakan fiskal untuk menopang sektor makro. 
     
    Ia mencontohkan krisis Asia 1998 yang membuat pemerintah harus menderegulasi pajak agar investasi masuk di kemudian hari. Adapun kondisi ekonomi sebenarnya berangsur pulih pada 2004. Namun, pada 2008, krisis kembali terjadi. Karena itu, JK mengibaratkan keadaan ekonomi bak celana yang bisa sewaktu-waktu menyempit dan tiba-tiba melebar di kemudian hari. 
     
    Dalam kesempatan yang sama, JK tak hanya merembuk persoalan ekonomi, tapi juga berkelakar tentang kisahnya bertemu ekonom senior, Emil Salim. Menurut JK, ia pernah menjadi peserta diskusi dengan pembicara Emil Salim semasa mengenyam kuliah di Univesritas Hasanuddin, Makassar. Kala itu, JK menyebut Emil berbicara soal utang negara. 
     
    "Katanya waktu itu Pak Emil baru pulang dari Den Haag dan ngomong utang Indonesia. Gimana pembicaraannya? Gampang itu, kita gak bisa bayar, mau apa tuh mereka. Nantilah kalau kita sanggup kita bayar. Artinya, itulah mengatur bangsa. Ada yang susah, ada yang gampang,” tutur JK.
    Emil yang hadir dalam acara tersebut terlihat mesam-mesem.
     
    JK akan mengakhiri masa jabatannya pada 18 Oktober 2019. Pada masa pemerintahan Kabinet Indonesia Kerja Jilid II, Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin sebagai wakilnya di kursi kepemimpinan negara. Artinya, posisi JK akan segera digeser oleh Ma’ruf. 
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.