2040, Energi Terbarukan Sumbang 85 Persen Konsumsi Global

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mural bermuatan kampanye penggunaan energi terbarukan dipampang di area konferensi perubahan iklim di Lima, Peru. (TEMPO/Shinta Maharani)

    Mural bermuatan kampanye penggunaan energi terbarukan dipampang di area konferensi perubahan iklim di Lima, Peru. (TEMPO/Shinta Maharani)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Energi baru terbarukan atau energi terbarukan dan gas alam menyumbang sebesar 85 persen secara konsumsi global pada tahun 2040. Hal itu berdasarkan data BP Energy Outlook 2019, yang disampaikan Rabu, 16 Oktober 2019.

    Group Chief Economist BP Spencer Dale menjelaskan bahwa outlook kali ini memusatkan perhatian pada seberapa cepat energi global berubah dengan tantangan ganda adalah emisi yang lebih sedikit.

    BP Energy Outlook juga menyoroti adanya ketidakpastian utama yang dapat mempengaruhi pola pasar energi global hingga tahun 2040. Transisi energi berubah cepat dalam beberapa tahun mendatang, khususnya energi dengan rendah karbon. Hal tersebut merupakan tuntutan dalam ekonomi global yang berkelanjutan.

    Persaingan dagang juga akan berdampak besar pada pasar energi, terutama apabila meningkatnya persaingan tersebut. Untuk kawasan Asia, permintaan energi akan semakin meningkat sekitar tiga kali lipat pada tahun 2040 di mana India dan Cina akan menjadi yang terbanyak dari permintaan tersebut.

    Kemudian, sektor industri merupakan penyumbang konsumsi terbanyak penggunaan energi dengan prediksi sekitar 75 persen dari permintaan keseluruhan. Sedangkan untuk transportasi justru akan mengalami perlambatan permintaan energi, meskipun efisiensi kendaraan semakin meningkat.

    Sementara itu, kebutuhan minyak akan meningkat pada paruh periode outlook pertama, yang kemudian perlahan akan stabil. Sedangkan permintaan batu bara secara global tetap rata.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.