Fokus Pembiayaan Rumah, BTN Lepas Unit Usaha Syariah pada 2020

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PT. Bank Tabungan Negara (BTN) Persero Tbk bersama PT. Adhouse Clarion Events, menggelar pameran Indonesia Properti Expo (lPEX) yang diadakan mulai Sabtu, 3 Februari  - Minggu, 11 Februari 2018 di Hall, A & B Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

    PT. Bank Tabungan Negara (BTN) Persero Tbk bersama PT. Adhouse Clarion Events, menggelar pameran Indonesia Properti Expo (lPEX) yang diadakan mulai Sabtu, 3 Februari - Minggu, 11 Februari 2018 di Hall, A & B Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

    TEMPO.CO, Yogyakarta - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) berencana melepas unit usaha syariah menjadi badan usaha sendiri (spin off) tahun 2020 agar bank ini lebih fokus dalam pembiayaan rumah.

    "Kalau sesuai rencana kami kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seharusnya spin off unit usaha syariah dilaksanakan tahun 2020," kata Direktur Keuangan dan Treasury BTN, Nixon Napitupulu dalam acara gathering dengan wartawan di Yogyakarta, Jumat, 5 Oktober 2019.

    Nixon mengatakan untuk memenuhi retrospektif modal di awal 2020 direncanakan aksi permodalan melalui subdebt di 2019 sebesar Rp 3 triliun hingga Rp 5 triliun yang dilakukan melalui junior global bond dan pinjaman subordinasi.

    "Untuk pinjaman subordinasi direncanakan dilakukan bersama dengan PT Sarana Multigriya Finance (SMF) sebesar Rp3 triliun dengan jangka waktu 5 hingga 7 tahun," ujarnya.

    Menurutnya permodalan melalui subdebt diperlukan untuk melanjutkan kontribusi BTN pada Program Sejuta Rumah dan tambahan likuiditas di saat kondisi likuditas ketat perbankan masih berlanjut.

    Sedangkan untuk rencana sekuritisasi aset Bank BTN, Nixon mengaku hal tersebut merupakan alternatif sumber pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas Bank BTN dalam pemberian kredit baru.

    Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan isu pembiayaan saat ini, yaitu jangka waktu pembiayaan yang pendek, suku bunga yang fluktuatif dan jumlah pembiayaan yang terbatas. ujarnya.

    "Kami merencanakan sekuritisasi aset yang bersumber dari penjualan aset dengan suku bunga tetap, kata Nixon.

    "Aksi permodalan melalui sekuritisasi aset diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dalam pemberian kredit baru dan mengurangi risiko kredit, risiko likuiditas dan risiko suku bunga," katanya.

    Dia juga mengungkapkan untuk rencana penyertaan modal masih mengalami kendala. Seperti akuisisi PNM Investment Management yang masih menunggu izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pengambilalihan PT Sarana Papua Ventura (SPV) masih terkendala kurang kondusifnya situasi di Papua.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.