Bangun PLTS, Tiga BUMN Bikin Perusahaan Patungan

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung utama Kementerian BUMN yang diresmikan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno pada Ahad, 5 Mei 2019. Gedung yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, tersebut dibangun atas inisiatif dan kerja sama Kementerian BUMN dengan 143 perusahaan pelat merah. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Gedung utama Kementerian BUMN yang diresmikan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno pada Ahad, 5 Mei 2019. Gedung yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, tersebut dibangun atas inisiatif dan kerja sama Kementerian BUMN dengan 143 perusahaan pelat merah. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - PT PLN (Persero), PT Len Industri (Persero), dan PT Pertamina (Persero) menandatangani Head of Agreement (HOA) tentang kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Penandatanganan dilakukan oleh Plt. Direktur Utama PT PLN Sripeni Inten Cahyani, Direktur Utama PT Len Industri Zakky Gamal Yasin, dan Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis 3 Oktober 2019.

    Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media (PISM) Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno berharap, sinergi tiga perseroan untuk membangun PLTS tidak hanya dilakukan saat ini. Ia ingin, PLTS sinergi ini juga bisa dikembangkan di daerah-daerah yang belum mendapatkan akses listrik.

    “PLTS ini kan bisa digunakan untuk meningkatkan akses di daerah-daerah yang belum mendapatkan listrik. Kami harap sinergi ini berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan,” kata Harry melalui keterangan tertulis, Kamis.

    Sementara itu, Direktur Utama PT Len Industri Zakky Gamal Yasin mengungkapkan, ketiga perusahaan akan membentuk suatu perusahaan patungan untuk melakukan pengelolaan proyek PLTS di lingkungan perusahaan BUMN. Kerja sama ini juga untuk mendukung program pemerintah mencapai target Bauran Energi tahun 2025 sebesar 6,5 GWp (Gigawatt peak). 

    “Di lingkungan kita sendiri seandainya semua BUMN memanfaatkan PLTS, potensinya bisa di kisaran 1,4 GWp. Pemanfaatannya bisa diterapkan di jalan tol, bandara, SPBU, stasiun kereta, pertambangan, pabrik, kantor, perkebunan, pelabuhan, serta gudang-gudang,” ungkap Zakky.

    Menurut Zakky sinergi antar perusahaan plat merah menjadi kunci merealisasikan pemberian manfaat. BUMN akan menjadi tolak ukur bagi implementasi energi ramh lingkungan di Indonesia dan membantu pemerintah mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca.

    "Selain itu juga akan membangun citra BUMN Hijau di tengah-tengah masyarakat. Bahkan lebih luas lagi dapat memudahkan akses pendanaan investasi hijau, serta residual value dalam bentuk electricity setelah BEP,” ungkap dia.

    Berdasarkan data Kementerian ESDM, Indonesia memiliki potensi energi matahari hingga 207,8 Gigawatt (GW). Sedangkan, pemanfaatan energi surya secara nasional melalui PLTS baru sebesar 94,42 MWp sampai dengan 2018. Artinya pemanfaatan energi surya di Indonesia baru sebesar 0,044 persen atau 0,017 persen dari potensi yang dimiliki.

    Negara yang mendapat peringkat pertama dalam pemanfaatan tenaga surya dari PLTS adalah Cina, dengan kapasitas mencapai 45 GW. Selanjutnya di posisi kedua sampai keempat berturut-turut adalah Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat.

    EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.