Pendaki Temukan Black Box Pesawat Twin Otter di Pegunungan Mimika

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat DHC-6 Twin Otter milik maskapai Aviastar mengalami kecelakaan dalam penerbangan dari Masamba menuju Makassar, Sulawesi Selatan, pada 2 Oktober 2015. Sebanyak tujuh penumpang dan tiga awak pesawat tewas dalam peristiwa tersebut. TEMPO/Iqbal Lubis

    Pesawat DHC-6 Twin Otter milik maskapai Aviastar mengalami kecelakaan dalam penerbangan dari Masamba menuju Makassar, Sulawesi Selatan, pada 2 Oktober 2015. Sebanyak tujuh penumpang dan tiga awak pesawat tewas dalam peristiwa tersebut. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua orang pendaki dari Vertical Rescue Indonesia/VRI Bandung, Palah Sabarudin dan Deden Wahyudin Jumat pagi berhasil menemukan black box pesawat Twin Otter dHC6-400 PK CDC yang jatuh di pegunungan Distrik Hoeya, Kabupaten Mimika, Papua.

    Black box yang berisi komponen peralatan Flight Data Recorder/FDR dan kokpit Voice Data Recorder/VDR itu langsung dievakuasi ke Timika dan selanjutnya akan dibawa ke Kantor Komite Nasional Keselamatan Transportasi/KNKT di Jakarta untuk diunduh.

    Komandan Lanud Yohanes Kapiyau Timika Letkol Penerbang Sugeng Sugiharto di Timika, Jumat, mengatakan pencarian black box pesawat Twin Otter PK CDC dilakukan mulai pukul 06.30 WIT. Helikopter Bell SA-315 B Lama PK IWV milik PT Intan Angkasa Air terbang dari Ilaga menuju lokasi dengan mengangkut dua personel pendaki VRI.

    "Setelah memakan waktu dua jam setengah tim menemukan black box dan kemudian dijemput lagi dengan helikopter menuju ke Ilaga dan selanjutnya diangkut dengan pesawat Twin Otter PK CDJ milik PT Carpediem dari Ilaga menuju ke Timika," jelas Letkol Sugeng.

    Pendaki VRI Deden Wahyudin menerangkan black box tersebut ditemukan pada bagian sebelah kanan ekor pesawat. Ekor pesawat nahas itu terpisah dari serpihan pesawat lainnya dan tersangkut pada sebuah batu besar di tebing jurang pegunungan di wilayah Distrik Hoeya.

    "Kami menggunakan kampak dan linggis untuk mengeluarkannya. Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk membongkarnya dan kemudian diangkut ke arah helypad sekitar 1 jam," jelas Deden.

    Hambatan terbesar untuk menemukan black box pesawat Twin Otter PK CDC itu, demikian Deden, yaitu kondisi cuaca berkabut dan suhu yang sangat dingin. "Jadi kami butuh perlengkapan jaket tebal, juga butuh angker-angker tali karena untuk mengakses ke black box ini menggunakan tali," jelasnya. Mengingat posisi ekor pesawat menggantung di pinggir tebing, maka sebelum dibongkar ekor pesawat diikat dengan tali agar tidak terjerembab ke bawah jurang.

    Pesawat Twin Otter PK CDC hilang kontak dalam penerbangan dari Timika menuju Ilaga pada Rabu, 18 September 2019. Pesawat itu dikemudikan Kapten Pilot Dasep Sobirin Ishak dengan Copilot Yudra dan mekanik Ujang membawa serta seorang penumpang yaitu Bharada Hadi Utomo. Saat kecelakaan terjadi, pesawat Twin Otter tersebut tengah mengangkut 1.600 kilogram beras Bulog untuk mendukung program bansos rastra di Kabupaten Puncak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.