RI Bidik Pasar Baru di Afrika, Luhut: Potensinya Sangat Besar

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kanan: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo terlihat sebelum rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 16 Juli 2019. Rapat ini dipimpin oleh Presiden Joko Widodo alias Jokowi. TEMPO/Subekti.

    Dari kanan: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo terlihat sebelum rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 16 Juli 2019. Rapat ini dipimpin oleh Presiden Joko Widodo alias Jokowi. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, JakartaMenteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menuturkan rencana Indonesia untuk membuka pasar-pasar baru di Afrika. Salah satunya adalah melalui Indonesia - Africa Infrastructure Dialogue 2019 di Bali Agustus mendatang.

    "Banyak sekali barang-barang produk Indonesia sekarang yang bisa kita ekspor. Jadi kita jangan hanya pakai pasar-pasar tradisional saja, istilahnya presiden, tapi juga buka market baru. Afrika dengan penduduk lebih 1,3 miliar ini satu market yang sangat besar, potensi yang sangat besar," ujar Luhut selepas acara Afternoon Tea dengan perwakilan negara-negara Afrika di Kantor Kementerian Luar Negeri, jakarta, Rabu, 24 Juli 2019.

    Harapannya, melalui forum ini akan ada kerja sama baru yang diteken antara Indonesia dengan sejumlah negara di Afrika. Sebelumnya, Indonesia sudah bekerjasama, salah satunya melalui Badan Usaha Milik Negara, di sejumlah negara Afrika.

    "Ini sekaligus juga utk membuka market kita di sana karena sekarang kita sudah mulai jalan supply chain industri yang ada di Morowali dan di Weda Bay dan itu saya kira market yang besar yang kita bisa share ke teman-teman di Afrika," kata Luhut.

    Walau demikian, Luhut memastikan kerjasama antara Indonesia dan negara-negara Afrika tersebut akan tetap menganut azas sama-sama untung, bukan dengan semangat eksploitasi yang berlebihan. "Tapi kita justru tadi menawarkan untuk berinvestasi di sana atau enggak barang kita ke sana, atau juga sebaliknya dari Afrika ke kita."

    Adapun proyek yang bisa dikembangkan misalnya soal smelting agar biaya listriknya bisa murah. "Contohnya mereka produksi cobalt kita produksi nikel ore, bagaimana kita kawinkan smelting di tempat cost listrik yang murah misalnya hydropower, yang bisa sampai 3 sen per kilowatt hour atau coal mining yg dibikin bagus bisa dengan 4 sen per kilowatt hour," tutur Luhut. Dengan demikian kerja sama itu bisa menguntungkan bagi dua belah pihak dan dengan semangat mengembangkan teknologi bersama.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.