Alasan Gudang Garam Enggan Lirik Bisnis Rokok Elektrik

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pabrik PT Gudang Garam Tbk. Kediri, Jawa Timur. ANTARA/Arief Priyono

    Pabrik PT Gudang Garam Tbk. Kediri, Jawa Timur. ANTARA/Arief Priyono

    TEMPO.CO, Kediri – PT Gudang Garam Tbk belum melirik untuk pengembangan produk rokok elektrik. Direktur Gudang Garam Heru Budiman mengatakan telah mengamati perkembangan rokok elektrik selama empat tahun sebelum memutuskan untuk tidak ikut-ikutan memproduksi.

    Baca juga: Direktur Gudang Garam Ungkap Penyebab Dividen Stagnan

    Salah satu penyebab Gudang Garam tak tertarik memproduksi rokok listrik lantaran regulasi yang ditetapkan pemerintah terhadap rokok elektrik sama dengan rokok biasa. Bahkan penerapan zona kawasan tanpa rokok juga dikenakan kepada rokok elektrik. “Bahkan rokok elektrik hanya berkisar pada kalangan atas karena harganya yang mahal,” kata Heru saat konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan PT Gudang Garam Tbk di Hotel Grand Surya Kediri, Rabu pagi, 26 Juni 2019.

    Hal senada diungkapkan Direktur Gudang Garam Istata Taswin Siddharta. Menurut Istata, perusahaannya belum melirik untuk pengembangan produk rokok elektrik. Dia menganggap content untuk rokok elektrik masih rendah dan belum potensial untuk diikuti. 

    RUPS Tahunan Gudang Garam memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp 5.002.628.800.000 atau Rp 2.600 per lembar saham. Angka ini sama persis dengan nilai deviden yang dibagikan dalam RUPS tahun lalu.

    Menurut Heru, nilai dividen yang dibagikan dalam tahun buku 2018 sudah cukup bagus di tengah kondisi industri rokok yang kurang bagus. Maraknya isu kesehatan dan berbagai faktor non teknis menjadi salah satu pemicu kondisi ini.

    “Isu kesehatan memang berpengaruh. Tapi perusahaan akan tetap mematuhi semua kebijakan pemerintah,” kata Heru.

    Heru menambahkan, kinerja perusahaan PT Gudang Garam dalam kondisi optimal meski tak menunjukkan kenaikan deviden. Nilai Rp 2.600 per lembar saham tergolong tinggi lantaran jumlah keuntungan Gudang Garam juga tak mengalami kenaikan besar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.