Aksi 22 Mei Berujung Ricuh, Transaksi Perbankan Malah Naik

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai salat Jumat di Masjid Kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat 22 Maret 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai salat Jumat di Masjid Kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat 22 Maret 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kondisi perbankan tetap berjalan normal kendati terjadi aksi 22 Mei yang berujung kerusuhan di DKI Jakarta.

    Baca juga: Aksi 22 Mei Rusuh, Menpar: Reputasi Pariwisata Rusak

    "Kondisi perbankan berjalan normal. Dari kemarin apalagi hari ini," ujar dia di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019.

    Memang, ujar Perry, di titik-titik kerusuhan, layanan perbankan terganggu. "Bukan hanya bank, semua aktivitas di lokasi yang terjadi kerusuhan juga terganggu," ujar dia. Namun, ia berujar aktivitas perbankan tetap normal.

    Perry mengatakan hari ini sudah ada 13 bank yang melakukan penarikan uang melalui BI. Kemarin, aktivitas transfer kliring tercatat volumenya 696 ribu dengan nilai Rp 14 triliun. "Itu lebih tinggi dari aktivitas harian," kata dia.

    Demikian juga dengan transaksi melalui real time gross settlement (RTGS) yang nilainya mencapai Rp 577 triliun atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata transaksi harian yang Rp 524 triliun.

    Sejak Selasa, 21 Mei 2019, massa pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno menggelar aksi menolak hasil perhitungan suara Komisi Pemilihan Umum yang memenangkan pasangan calon presiden dan wakil presiden inkumben Joko Widodo - Ma'ruf Amin. Demonstrasi itu berujung kericuhan di sejumlah titik di Jakarta. Bahkan ada nyawa melayang akibat kerusuhan itu.

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengatakan tutupnya kantor bank saat aksi tersebut tak berarti tidak ada aktivitas. Sebab, menurutnya, fisik kantor bank menjadi tidak terlalu penting karena bisa dilakukan dengan elektronik.

    "Jadi makanya enggak heran kalau settlement di BI tetap tinggi. Malah naik," ujar Wimboh. Di samping itu, ia mengatakan masyarakat sudah mulai didorong agar tidak banyak menggunakan uang tunai.

    Baca berita Aksi 22 Mei lainnya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.