Garuda Bantah Prabowo Soal Okupansi 120 Persen Supaya Untung

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang teknisi melakukan pengecekan pesawat Garuda Indonesia tipe Boeing 737 Max 8 di Garuda Maintenance Facility AeroAsia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 13 Maret 2019. Garuda Indonesia memesan Max 8 sebanyak 50 unit adalah untuk peremajaan dan efesiensi. REUTERS/Willy Kurniawan

    Seorang teknisi melakukan pengecekan pesawat Garuda Indonesia tipe Boeing 737 Max 8 di Garuda Maintenance Facility AeroAsia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 13 Maret 2019. Garuda Indonesia memesan Max 8 sebanyak 50 unit adalah untuk peremajaan dan efesiensi. REUTERS/Willy Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau Garuda Indonesia membantah pernyataan calon Presiden Prabowo Subianto bahwa Garuda harus memiliki okupansi 120 persen jika ingin mendapatkan untung. Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengatakan selama ini belum ada airline yang bisa memiliki okupansi sampai 100 persen.

    Baca juga: Benarkah Kondisi Garuda Seperti yang Disebut Prabowo?

    Paling banyak, kata Ikhsan, okupansi maskapai paling mungkin bisa diperoleh sebanyak 95 persen. "Rata-rata tidak ada airline yang bisa sampai 100 persen okupansinya. Yang terbaik mungkin 78-80 persen saat ini seperti Singapore Airlines," kata Ikhsan ketika dihubungi Tempo, Ahad 14 April 2019.

    Adapun saat ini load factor atau tingkat keterisian kursi milik maskapai Garuda dalam penerbangan rata-rata mencapai 75 persen. Dengan jumlah tersebut, Garuda sudah bisa mendapat untung dengan kondisi harga saat ini.

    Ikhsan menjelaskan, konsep okupansi harus dilihat dalam konsep pulang pergi perjalanan satu pesawat dalam satu waktu yang sama. Pada masa peak season misalnya, keberangkatan rute A ke B mungkin memiliki okupansi sebesar 95 persen. Tetapi belum tentu rute pulang dari B ke A akan memiliki okupansi yang sama.

    "Contohnya orang sering melihat wah kalau lebaran itu pasti penuh, ya mungkin orang tidak melihat kalau pulangnya itu kosong kan," kata Ikhsan.

    Sebelumnya, Garuda Indonesia menjadi sorotan oleh calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Mengutip studi Bloomberg, Prabowo mengatakan maskapai penerbangan pelat merah itu perlu okupansi 120 persen agar meraup untung.

    Angka itu jauh bila dibandingkan maskapai asal Jepang ANA yang hanya butuh 60 persen untuk untung. "Garuda tidak bisa untung-untung kalau begini terus pengelolaannya, jadi mau bikin holding, holding, holding, yang sekarang saja tidak dikelola dengan baik," ujar Prabowo dalam debat di Hotel Sultan, Sabtu 13 April 2019.

    Karena itu, Prabowo menyatakan kerisauannya bahwa BUMN kebanggaan Tanah Air yang semestinya menjadi jawara baik di dalam maupun luar negeri sekarang malah dikalahkan oleh pihak asing.

    "Padahal ini air space itu adalah aset bangsa kita itu adalah aset ekonomi kenapa kita biarkan aset ekonomi ini dinikmati oleh orang lain flag carrier kita kebanggaan kita Garuda kok kita biarkan morat marit seperti sekarang."

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.