Ekonom Sebut Kartu Pra Kerja Jokowi Tambah Pengangguran

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Presiden inkumben nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi menunjukkan kartu Pra Kerja saat berpidato dalam kampanye terbuka di Lhokseumawe, Aceh, Selasa, 26 Maret 2019. kampanye ini dihadiri ribuan pendukung, parpol pengusung, dan para ulama. ANTARA/Rahmad

    Calon Presiden inkumben nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi menunjukkan kartu Pra Kerja saat berpidato dalam kampanye terbuka di Lhokseumawe, Aceh, Selasa, 26 Maret 2019. kampanye ini dihadiri ribuan pendukung, parpol pengusung, dan para ulama. ANTARA/Rahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Kartu pra kerja yang diperkenalkan oleh calon presiden nomor 01 Joko Widodo menuai kritik. Ekonom dari Center of Reform on Economics alias Core Indonesia Akhmad Akbar Susamto menyebut kartu sakti itu berpeluang meningkatkan angka pengangguran di Indonesia.

    Simak juga: Berkampanye di Ngawi, Jokowi Kenalkan Tiga Kartu Sakti

    "Saya menduga ketika ada tawaran itu maka jumlah pengangguran akan meningkat," ujar dia dalam diskusi media menjelang debat capres kelima di Hong Kong Cafe, Jakarta, Selasa, 9 April 2019. 

    Akbar mengatakan saat ini persoalan tenaga kerja di Indonesia bukan hanya para pekerja yang kehilangan pekerjaan maupun para lulusan anyar yang butuh kerja. Persoalan utama Indonesia, menurut dia, adalah tingginya pekerja sektor informal yang ingin kerja di sektor formal.

    Sehingga ketika ada gagasan kartu pra kerja, Akbar mempertanyakan posisi para pekerja informal. Ia memperkirakan akan banyak dari mereka yang akhirnya mengaku menganggur dan ingin ikut program tersebut.  "Mereka yang sudah bekerja di sektor informal akan memilih untuk mendaftar dan mengaku pengangguran. Kan lumayan."

    Sebelumnya, Jokowi mengatakan kartu pra kerja dikeluarkan untuk mendukung generasi muda Indonesia agar memiliki peluang masuk ke dunia industri dan dunia kerja. Jokowi menyebut itu adalah investasi yang dilakukan pemerintah.

    Dengan memegang kartu pra kerja, para lulusan Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, hingga akademi, yang ingin masuk ke dunia kerja akan dilatih terlebih dahulu. Pelatihan itu bisa dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri. "Setelah pegang kartu ini, kalau sudah training kok belum dapat kesempatan kerja, ini akan ada insentif honor," tutur Jokowi.  

    Atas rencana itu, Akbar mengingatkan agar pemerintah berhati-hati dalam menerapkan. Apalagi berdasarkan studinya pada penerapan di negara maju, program serupa itu tidak berkorelasi positif dengan kecenderungan orang untuk bekerja. Ia mengatakan program itu membikin orang tidak bekerja.

    "Apakah mereka jadi malas? Bukan. Tapi mereka menjadi hak memilih-milih pekerjaan. Jadi kalau pekerjaannya kurang bagus dia akan memilih untuk ikut program tersebut," ujar Akbar.

    Sebelumnya, program kartu sakti Jokowi juga disentil oleh calon presiden nomor urut 02 dalam kampanye akbar beberapa hari lalu. Prabowo menyindir program Jokowi yang berjanji untuk membagi-bagikan Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Pra Kerja. Menjawab kartu-kartu ini, Prabowo mengatakan, "Bung, kita butuh pekerjaan. Bukan kartu."

    Prabowo juga meniru gerak-gerik politikus saat berpidato. Dia mengatakan elit seolah-olah mengabarkan telah menurunkan kemiskinan. "Ya benar kemiskinan menurun. Tapi menurun dari kakek ke cucu," ujar dia.

    CAESAR AKBAR | RYAN DWIKY ANGGRIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.