BPS: Neraca Perdagangan Februari Surplus Setelah Defisit 4 Bulan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Neraca Perdagangan Juni Surplus

    Neraca Perdagangan Juni Surplus

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statisitik atau BPS mencatat neraca perdagangan pada Februari 2019 surplus sebesar US$ 330 juta. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus tersebut disumbangkan neraca ekspor-impor dari non migas yang surplus sebesar US$ 790 juta.

    Baca juga: Jokowi Kesal Neraca Perdagangan Defisit Lagi, Ini Respons Mendag

    "Sesudah empat bulan defisit, bulan ini surplus. Meskipun demikian, jika dilihat kondisi impor atau ekspor yang turun karenanya. Tapi setidaknya ini berita baik karena akan berpengaruh pada angka pertumbuhan ekonomi triwulan pertama 2019," kata Suhariyanto di kantornya saat mengelar konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat 15 Februari 2019.

    Sebelumnya, BPS merilis laporan bahwa neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$ 1,16 miliar pada Januari 2019. Defisit ini disebabkan kondisi neraca ekspor yang lebih rendah dibandingkan impor. Dalam hal ini, nilai ekspor Januari 2019 mencapai US$ 13,87 miliar sedangkan nilai impor hanya mencapai US$ 15,03 miliar.

    Defisit tersebut terjadi karena adanya defisit pada sektor migas sebesar US$ 454 juta dan non migasnya sebesar US$ 704,7 miliar. Menurut catatan BPS, defisit neraca perdagangan pada Januari 2019 menjadi defisit terdalam sejak 2014.

    Suhariyanto menjelaskan, meski dari sisi non migas mengalami surplus, dari sisi migas posisi neraca masih mengalami defisit sebesar US$ 460 juta. Defisit tersebut terjadi karena harga komoditas minyak mentah dan hasil minyak yang mengalami penurunan. Sedangkan komodias gas masih mengalami surplus.

    Kendati demikian, walaupun pada Februari 2019 neraca perdagangan masih surplus, sepanjang Januari-Februari 2019, neraca perdagangan masih defisit sebesar US$ 1,03 miliar. Defisit paling banyak disumbangkan oleh neraca non migas yang mengalami defisit sebesar US$ 730 juta.

    "Meski bulan Februari surplus, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dipikirkan. Misalnya, bagaimana harus memacu ekspor, melakukan diversifikasi pasar dan menyajikan produk yang kompetitif serta perlu untuk kendalikan impor," kata Suhariyanto.

    Baca berita neraca perdagangan lainnya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.