Demo, Driver GoJek Yogya Tolak Penghapusan Subsidi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi demo. Dok. TEMPO/Pius Erlangga

    Ilustrasi demo. Dok. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Para driver Gojek dari Paguyuban Gojek Djogja (Pagodja) Yogyakarta turun ke jalan untuk memprotes sejumlah kebijakan dari PT Gojek Indonesia (PT GI) yang dianggap merugikan para driver, Jumat 8 Maret 2019. Aksi protes dipusatkan di Kantor Operasional PT Gojek Indonesia, Jalan Imogiri Timur, Giwangan Yogyakarta.

    Baca juga: Driver Go-Jek dan Grab Setuju Shelter di Stasiun Ditambah

    "Kami menentang keras kebijakan penghilangan subsidi itu karena jelas kebijakan itu menurunkan pendapatan para driver," ujar juru bicara Pagodja, Wibi Asmara.

    Pagodja yang merupakan wadah bagi sekitar 100 perwakilan komunitas driver Go-Jek dan Go-Car itu menentang keras kebijakan PT GI, terutama terkait penghilangan subsidi untuk para driver.

    Paguyuban mendesak agar PT GI mengembalikan sistem yang digunakan kembali ke sistem semula atau saat sebelum subsidi dicabut.

    Selain dianggap merugikan, kebijakan penghilangan subsidi membuat tarif yang diterapkan menjadi lebih mahal. Para driver khawatir pelanggan akan beralih dan menggunakan operator lain.

    Dalam aksi itu para driver juga membuat petisi untuk disampaikan ke Direksi PT Gojek Indonesia. Tuntutan dalam petisi itu antara lain PT GI menghapus sistem akun prioritas yang dinilai merugikan driver. Semua orderan harus bisa diterima dan dirasakan seluruh driver tanpa terkecuali, tanpa ada pembatasan sekat entah akun prioritas atau tidak.

    Sistem akun prioritas menjadikan pendapatan yang diperoleh driver menjadi tidak adil.  Driver biasa akan kalah dengan para pemilik akun prioritas. Sehingga orderan yang diperoleh menjadi tidak seimbang. "Akun prioritas menyulitkan driver mendapatkan order dibanding yang prioritas,” ujarnya.

    Sepanjang aksi itu, para pengemudi Gojek diimbau tidak mengambil orderan dari pengguna aplikasi sementara. Walhasil, para konsumen kesulitan mendapat transportasi online.

    Ria, 38, pelanggan Go-Jek, warga Wirobrajan Yogya, mengaku kesulitan mendapatkan driver untuk mengantar pulang sekolah anaknya. "Selama 15 menit coba order tak ada driver yang merespon, biasanya semenit sudah dapat," ujarnya.

    Michael Reza, VP Corporate Affairs Go-Jek, menuturkan terkait skema insentif bagi driver pihaknya menyatakan bahwa insentif adalah bonus tambahan yang diberikan Go-Jek demi menjaga kualitas layanan.

    "Skema insentif akan selalu menyesuaikan dengan kondisi pasar karena tujuan utama skema insentif adalah untuk mengupayakan titik temu terbaik antara permintaan pelanggan dan ketersedian mitra Go-Jek," ujar Michael dalam keterangannya Jumat.

    Michael menyatakan fokus Gojek terkait kesejahteraan driver tidak hanya terbatas pada tarif dan insentif. Salah satu bentuk perwujudan aspirasi mitra adalah diluncurkannya berbagai program kesejahteraan mitra, melalui program Go-Jek Swadaya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.