Tanda-tanda Dwi Soetjipto Disiapkan Jadi Kepala SKK Migas

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) yang baru Dwi Soetjipto (kiri) berjabat tangan dengan pejabat lama Amien Sunaryadi seusai pelantikan di Gedung Kementerian ESDM Jakarta, Senin, 3 Desember 2018. ANTARA/Humas Kementerian ESDM

    Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) yang baru Dwi Soetjipto (kiri) berjabat tangan dengan pejabat lama Amien Sunaryadi seusai pelantikan di Gedung Kementerian ESDM Jakarta, Senin, 3 Desember 2018. ANTARA/Humas Kementerian ESDM

    TEMPO.CO, Jakarta -Presiden Joko Widodo menunjuk mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto sebagai Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menggantikan Amien Sunaryadi yang memasuki masa pensiun. Dwi menyatakan baru menerima informasi dari Istana sebagai kandidat Kepala SKK Migas sepekan lalu.

    BACA: Respons Dwi Soetjipto Saat Diminta Jokowi Jadi Kepala SKK Migas

    Sumber Tempo yang mengetahui detail proses ini mengungkapkan rencana pengangkatan Dwi dipersiapkan sejak dicopot dari jabatannya di Pertamina pada awal Februari 2017. Namun karena masa kerja Amien belum selesai, Dwi “magang” dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan. “Dwi rutin bertemu Menteri Jonan dan beberapa kali diajak ke luar negeri,” kata sumber tadi.

    Tanda-tandanya tampak April lalu ketika Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2018 sebagai perubahan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha huku minyak dan gas bumi. Dalam belied tersebut, ketentuan usia pensiun Kepala SKK dihilangkan dari ketentuan semula maksimum 60 tahun. Dwi dapat mengisi pos barunya kini di usia 63 tahun, empat tahun lebih tua dari yang digantikannya.

    BACA: Jadi Kepala SKK Migas Baru, Ini PR yang Menanti Dwi Soetjipto

    Dwi enggan berkomentar soal ini. "Enggak tahu saya, kalau keputusan presiden turun saya jalankan, kalau enggak turun ya enggak saya jalankan," ujarnya. Dia tak menampik dekat dan berkomunikasi intens sepekan terangkir dengan Menteri Jonan. Dia mengungkapkan kerap diundang ke kantor dan ikut dalam kunjungan Jonan ke kantor ENI, perusahaan migas Italia, di Milan. "Saya datang sebagai sahabatnya Pak Menteri saja," ujar Dwi.

    Menteri Energi Ignasius Jonan meminta Dwi segera menggenjot eksplorasi untuk menambah cadangan migas nasional. Dia juga meminta mengubah kontrak lama yang masih menggunakan skema cost recovery dengan gross split. "Menjadi pemimpin itu memang ada yang dikorbankan, dan tidak ada lagi kepentingan pribadi, saya minta itu saja," kata Jonan.

    LARISSA HUDA | FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.