JK Sebut Ada 3 Negara Ingin Bertemu Saat KTT G20 di Argentina

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK) melantik 1.994 orang calon Muda Praja menjadi Muda Praja IPDN, di Lapangan Parade  Abdi Praja, Jatinangor, Sumedang, Jumat, 2 Nopember 2018. (dok Pemprov Jabar)

    Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK) melantik 1.994 orang calon Muda Praja menjadi Muda Praja IPDN, di Lapangan Parade Abdi Praja, Jatinangor, Sumedang, Jumat, 2 Nopember 2018. (dok Pemprov Jabar)

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK mengatakan ada tiga negara yang ingin bertemu dirinya di sela-sela pertemuan kelompok 20 atau Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Argentina.

    BACA: JK Minta Proses Hukum Kasus Dana Kemah Pemuda Berjalan Transparan

    "Beberapa negara sudah ada yang minta kepada saya, ada tiga negara. Dari Indonesia kita juga minta beberapa kepala negara untuk bertemu," kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa, 27 November 2018.

    JK enggan menyebutkan negara mana saja yang akan melakukan pertemuan bilateral dengannya. Recananya, JK akan berangkat ke Argentina pada Selasa malam, 27 November 2018. Adapun pertemuan KTT G20 akan berlangsung pada 30 November dan 1 Desember 2018.

    BACA: JK di Muktamar Pemuda Muhammadiyah: Dakwah Jangan Menakutkan

    JK menuturkan, agenda yang paling banyak dibahas dalam pertemuan itu mengenai cara meredam perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat. "Dan bagaimana adanya gejala-gejala ekonomi dunia ini bisa menurun, bisa resesi," katanya.

    Menurut JK, banyak negara menginginkan perang dagang tidak terjadi. Sebab, kata dia, masalah yang ditimbulkan dari adanya perang dagang Cina dan AS bisa melebar, mendalam, dan sangat berbahaya jika tidak segera diredam.

    Keinginan agar perang dagang Cina dan AS meredam juga diungkapkan sebelumnya dalam pertemuan keempat para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara yang tergabung di dalam forum G20, di pertemuan tahunan IMF di Bali, pada Oktober 2018.

    Menteri Keuangan dan Perbendaharaan Negara Argentina, Nicolás Dujovne mengatakan meski anggota G20 menghormati kebijakan terkait dengan tensi dagang pada masing-masing negara, namun forum sepakat untuk meredakan tensi tersebut.

    "Meski menghormati tensi perdagangan itu, kami sepakat bahwa perdagangan internasional adalah mesin bagi pertumbuhan ekonomi, karena itu kami membutuhkan pemecahan masalah tensi tersebut karena bisa berdampak negatif terhadap sentimen pasar dan meningkatkan volatilitas finansial," kata Dujovne ketika mengelar konferensi pers di Medan Room, Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018.

    Selain menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari anggota G20 hadir pula dalam pertemuan ini adalah Christine Lagarde, Direktur Pelaksana IMF; Jim Yong Kim, Presiden Bank Dunia; Mario Draghi, Presiden Bank Sentral Eropa; Steven Mnuchin, Menteri Keuangan Amerika Serikat; Philip Hammond, Kanselir Keuangan Britania Raya; dan Taro Aso, Menteri Keuangan Jepang.

    Kesimpulan dari pertemuan ini adalah langkah lain menuju penyelenggaraan acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin G20 yang akan diadakan pada 30 November dan 1 Desember di Buenos Aires.

    Dujovne menjelaskan, dalam kesepakatan tersebut diambil setelah negara-negara anggota G20 membahas mengenai pandangan masing-masing terhadap kondisi ekonomi global. Saat ini, kondisi ekonomi global masih melanjutkan kondisi yang positif, sementara proyeksi pertumbuhan ekonominya cenderung stagnan.

    Meski kondisi ekonomi global masih terlihat positif, ekspansi ekonomi tercatat tidak merata. Adapun beberapa risiko yang membuat pertumbuhan melambat seperti yang telah banyak dikemukakan banyak pihak sudah mulai mewujud. "Karena itu kerjasama antara negara-negara anggota adalah kunci untuk mempertahankan stabilitas keuangan global," kata dia.

    Baca berita tentang JK lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.