Angkasa Pura II Turunkan Belanja Modal 2019 Hingga 41,1 Persen

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan) dan Dirut Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin (kedua kanan) meninjau fasilitas Terminal Bandara Internasional Silangit di Siborong-Borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 24 November 2017. Presiden berharap dibukanya Terminal Bandara Internasional Silangit menjadi pintu masuk bagi wisatawan mancanegara untuk menikmati keindahan Danau Toba. ANTARA FOTO

    Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan) dan Dirut Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin (kedua kanan) meninjau fasilitas Terminal Bandara Internasional Silangit di Siborong-Borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 24 November 2017. Presiden berharap dibukanya Terminal Bandara Internasional Silangit menjadi pintu masuk bagi wisatawan mancanegara untuk menikmati keindahan Danau Toba. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Angkasa Pura II (Persero) telah menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga Rp 11 triliun pada 2019. Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin mengatakan jumlah dana investasi tersebut cenderung menurun hingga 41,1 persen dibandingkan dengan alokasi 2018 yang mencapai Rp 18,7 triliun.

    Baca juga: Investasi Perluasan Terminal Bandara SSK II Pekanbaru Rp 207 M

    "Kami sudah susun alokasi dana capex hingga Rp 11 triliun untuk tahun depan," kata Awaluddin, Selasa, 13 November 2018.

    Menurutnya, dana investasi Rp 11 triliun itu akan digunakan perusahaan untuk pemeliharaan dan operasional bandara, serta pengembangan usaha. Selain itu, dana itu dialokasikan untuk penambahan dan peningkatan bisnis nonaeronautika.

    Pada tahun ini, dana investasi sebesar Rp 18,7 triliun terdiri atas peningkatan sisi udara sebesar Rp 7,7 triliun, peningkatan sisi darat sebesar Rp 5,4 triliun, dan fasilitas penunjang Rp 5,6 triliun.

    Dia menambahkan sebagian besar dana investasi tersebut akan digunakan untuk pengembangan bandara yang ada, termasuk empat bandara yang dialihkelolakan dari Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) Kementerian Perhubungan, dan revitalisasi gedung Terminal 1 dan 2 Bandara Soekarno-Hatta.

    Keempat bandara tersebut antara lain, Bandara Fatmawati Soekarno di Bengkulu, Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Hanandjoeddin di Belitung, dan Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya.

    Dana investasi awal atau initial capital expenditure outlay yang dibutuhkan untuk mengembangkan keempat bandara tersebut berada pada kisaran Rp 2,2-2,5 triliun. Akan tetapi, pendanaan menggunakan skema kerja sama pemanfaatan (KSP).

    Sementara, revitalisasi Terminal 1 dan 2 Bandara Soekarno-Hatta dibutuhkan untuk memperbesar daya tampung pergerakan penumpang menjadi 43 juta orang per tahun. Adapun, saat ini total kapasitas Terminal 1 dan 2 di Bandara Soekarno-Hatta hanya 18 juta orang per tahun.

    Pengembangan usaha nonaeronautika, lanjutnya, akan didukung dengan teknologi berbasis digital. Terdapat lima fokus pengembangan airport digital business, yakni airport big data, airport e-payment, airport e-advertising, airport e-commerse, dan airport community.

    Awaluddin menyebut pemenuhan dana investasi tersebut tidak hanya berasal dari kas internal perusahaan. Selain dari penawaran obligasi, juga terdapat skema commercial loan, termasuk mengajak mitra untuk menjalankan pola partnership. "Adanya partner ini, capex tidak lagi dipenuhi dari dana sendiri terus," ujar Direktur Utama Angkasa Pura II itu.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.