Rabu, 21 November 2018

Pengusaha Kapal Usul Penggunaan B20 untuk Angkutan Laut Ditunda

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Asosiasi Pelayaran Niaga Indonesia (INSA) Carmelita Hartoto di kantor Kadin, Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (26/7). TEMPO/Dwianto Wibowo

    Ketua Asosiasi Pelayaran Niaga Indonesia (INSA) Carmelita Hartoto di kantor Kadin, Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (26/7). TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia alias INSA menyurati pemerintah guna memohon penundaan penggunaan Biodiesel dengan kadar minyak sawit 20 persen alias B20.

    Baca: Mobil Toyota Siap dan Aman Menggunakan Biodiesel B20, Asal..

    "Kami mendukung kebijakan pemerintah dalam penggunaan B20, namun relaksasi bagi angkutan laut dibutuhkan sampai adanya kajian teknis dari penggunaan B20 untuk marine used. Hal ini diperlukan untuk mengetahui secara jelas dampak dari penggunaan B20 terhadap mesin kapal," ujar Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto kepada Tempo, Jumat, 9 November 2018.

    Surat tertanggal 11 Oktober 2018 itu menyebut beberapa alasan mengapa asosiasi menyarankan penundaan mandatori B20 pada kapal niaga, salah satunya mengenai kandungan dalam FAME. "Kandungan FAME yaitu solvent dalam BBM dapat menyebabkan korosif pada seals dan gaskets," ujar Carmelit.

    Sifat pembersih kandungan solvent pada biodiesel B20 juga disebut dapat membawa lumpur dan kotoran ke saringan. Akibatnya, saringan bahan bakar mesti sering diganti dan berimbas kepada peningkatan biaya. Persoalan lainnya adalah dalam keadaan dingin biodiesel akan menghasilkan gel yang bisa bermasalah, khususnya saat penyimpanan.

    "Penyimpanan BBM B20 tidak stabil, terutama pada waktu lebih dari delapan pekan akan mengakibatkan emulsy, sehingga bentuk B20 akan menjadi off specification, kecuali ada perlakuan khusus," ujar Carmelita. Biodiesel B20 juga tidak bisa disimpan dalam tangki terbuka lantaran akan sensitif kepada kelembapan dan mempercepat pertumbuhan bakteri. 

    Selain itu, menurut Carmelita, material tembaga pada sistem BBM juga tidak kompatibel untuk biodiesel B20 sehingga bisa menimbulkan potensi masalah. Di samping itu, Carmelita berujar pemakaian B20 juga bakal mengurangi tenaga kapal.

    Sehingga, untuk jarak tempuh yang sama diperlukan penambahan penggunaan BBM ketimbang sebelumnya. Belum lagi, pemakasian biodiesel B20 juga dapat berimbas negatif pada kondisi garansi pabrik dan asuransi kapal.

    Apabila penggunaan B20 itu tetap dipaksakan untuk industri pelayaran, Carmelita berujar perlunya pengusaha mengeluarkan investasi biaya awal seperti untuk membersihkan tangki, pipa, sistem BBM, dan pemeliharaan sistem penyimpanan B20.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.