Rabu, 21 November 2018

Blak-blakan Soal Impor Jagung, Menteri Darmin: Mentan yang Minta

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution. Dok.TEMPO/Pius Erlangga, TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution. Dok.TEMPO/Pius Erlangga, TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menceritakan pangkal mula usulan impor jagung 100 ribu ton. Menurut dia, walau impor akan dilakukan oleh Kementerian Perdagangan, permintaan untuk mengimpor jagung meluncur dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

    Baca: Mentan Sebut Stok Jagung Dalam Negeri Dikuasai Perusahaan Besar

    Darmin berujar walaupun Kementerian Pertanian mengklaim adanya surplus produksi jagung sekitar 13 juta ton, harganya tetap melambung. "Harganya naik, banyak yang marah, ada yang mau demo dan segala macam," ujar Darmin di kantornya, Rabu malam, 7 November 2018.

    Melambungnya harga jagung yang bisa mencapai Rp 5 ribu per kilogram itu kemudian membuat Amran mengusulkan impor. "Mentan bilang minta impor deh 100 ribu ton," kata bekas Gubernur Bank Indonesia itu. "Maka saya bilang agar bikin surat, jangan nanti enggak ngaku."

    Pada mulanya, Darmin juga sempat bertanya mengapa Amran mengusulkan impor di tengah surplus jagung. Berdasarkan pemahaman dia, kenaikan harga terjadi kalau stok kurang.

    "Kalau harga naik, artinya ada yang kurang. Itu sederhana saja," kata Darmin. Amran pun menunjukkan surat-surat dari para peternak mengenai fenomena itu. Akhirnya, Darmin sepakat dengan rencana tersebut.

    Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik produksi jagung dalam lima tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen per tahun. Itu artinya, kata Syukur 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering.

    Prakiraan ketersediaan produksi jagung November sebesar 1,51 juta ton, dengan luas panen 282.381 hektare, bulan Desember 1,53 juta ton, dengan luas panen 285.993 hektare.

    Sementara dari sisi kebutuhan, kata Syukur berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan  Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15,5 juta ton PK, terdiri dari pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan industri pangan 4,76 juta ton PK.

    "Artinya Indonesia masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK, dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Philipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton," kata kaya Syukur.

    Adapun Amran mengatakan impor jagung hanya untuk mengontrol harga agar stabil. Sebab, di pasaran, harga jagung telah menyentuh Rp 5 ribu per kilogram dan bisa menyulitkan para peternak. Menurut dia, apabila harga jagung menurun, impor tak akan dilanjutkan.

    “Ini baru rencana impor 50 ribu oleh Bulog. Itu pun pemerintah yang impor bukan dilepas. Kalau mungkin harga turun, enggak mungkin dikeluarin. Sebagai alat kontrol aja,” kata dia di Kementerian Pertanian, Selasa, 6 November 2018.

    Baca: Soal Impor Jagung, BPS Tak Rilis Data Produksi Sejak 2016

    Hingga kemarin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan belum ada permohonan perizinan impor jagung dilayangkan ke kementeriannya. "Iya belum ada permohonan," ujar Enggartiasto.

    KARTIKA ANGGRAENI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.