Kamis, 15 November 2018

Rampung Juz 19, Haska, Korban Lion Air JT 610 Tinggal Landas

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • RS Polri menyerahkan korban yang sudah teridentifikasi kepada keluarga korban di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Ahad, 4 November 2018. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    RS Polri menyerahkan korban yang sudah teridentifikasi kepada keluarga korban di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Ahad, 4 November 2018. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta -Tri Haska Hafidzi adalah orang kedua yang membubuhkan tanda contreng hijau, di grup Whatsapp 'DJP Bertilawah P2humas', Senin pagi, 29 Oktober 2018 lalu atau di hari pesawat Lion Air JT 610 jatuh. Pada pukul 05.46 WIB, account representative atau AR di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu melaporkan bahwa tugasnya mendaras Juz 19 Al Quran, rampung pada pekan itu.

    BACA: Lion Air Jatuh, Direktur Ini Klaim Penjualan Tiket Tetap Stabil

    Satu menit sebelumnya, Ary Festianto mengirim centrang hijau untuk Juz 28. Grup tersebut beranggotakan 30 pegawai Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat atau P2humas, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan.

    Mereka berkomitmen membaca Al Quran sebanyak satu juz dalam sepekan, per orang. Setiap anggota grup kebagian tugas mendaras satu juz yang berbeda-beda. Sehingga, bila digabungkan, akan terbaca 30 juz dalam sepekan. "Haska terakhir online jam 05.56," Riza Almanfaluthi, yang juga anggota grup, mengisahkan kepada Tempo, Minggu, 4 November 2018.

    BACA: Tragedi Lion Air, Kemenhub Jaga Reputasi Penerbangan RI

    Senin pagi itu, para pegawai Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan Masyarakat bekerja seperti biasa. Begitu pula Riza. Tak ada firasat apa-apa. Televisi di kantor menyala, siaran berita, mengabarkan informasi terkini. Menjelang jam 08.00 mulai muncul simpang siur pemberitaan tentang pesawat Lion Air JT 610 yang hilang kontak dengan menara pengawas Bandar Udara. Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten.

    Hingga akhirnya, regulator mengumumkan burung besi itu jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat.

    Pesawat jenis Boeing 737 Max 8 dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang itu mengangkut 189 penumpang. Di antaranya seorang bayi, dua anak, dan tujuh awak kabin. Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 06.20 WIB dan dijadwalkan mendarat di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang jam 07.20. Tapi, pemerintah menyatakan pesawat hilang kontak pada 06.32 WIB, atau sekitar 12 menit setelah terbang.

    Informasi selanjutnya membuat Riza dan teman-temannya syok: 21 pegawai Kementerian Keuangan menumpang pesawat nahas tersebut. Sebanyak 12 di antaranya adalah pegawai Direktorat Jenderal Pajak, termasuk Haska. Tiga orang lainnya dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, dan enam orang dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

    Menurut Riza, penerbangan Senin pagi atau Minggu malam memang kerap digunakan para pegawai Kementerian Keuangan yang bertugas jauh dari Jakarta. Biasanya mereka pulang ke Jabodetabek pada Jumat, dan kembali ke tempat tugas Minggu malam atau Senin pagi. Kebetulan, Kementerian Keuangan menggelar acara peringatan 'Hari Oeang ke-72 pada Sabtunya. "Jam terbang Lion Air JT 610 itu pas dengan jadwal masuk kantor kami yakni 07.30," ujarnya.

    Kementerian yang dipimpin Sri Mulyani Indrawati ini berkabung dengan menyematkan pita hitam di lengan kiri. Riza mengatakan para kolega mengenal Haska sebagai pribadi yang ringan tangan, kreatif, dan pembelajar yang baik. Haska juga dikenal sebagai sosok yang kocak.

    “Sejak diangkat jadi pemeriksa pajak, kami masih tergabung di grup Pemeriksa Pajak seangkatan. Seringkali hal-hal yang diposting Haska di grup adalah banyolan atau cerita-cerita absurd,” ujar Septiana Asti Buana Pratiwi, teman Haska di Subdirektorat Penyuluhan Perpajakan.

    Tapi, menurut Septi, ada yang berbeda pada Ahad, sebelum Haska terbang. Haska membuka perbincangan di grup, mengajak belajar Apiseta, aplikasi yang memudahkan pemeriksa dalam menyusun kertas kerja pemeriksaan.

    Haska memberi tutorial, langkah demi langkah kepada anggota grup. Bahkan Haska sampai mengundang Yusni, inisiator aplikasi ini, ke dalam grup untuk turut membantu. “Grup yang biasanya penuh guyonan receh hari itu, jadi penuh diskusi bernas,” kata Septi.

    Septi mengenang kalimat Haska yang terngiang sampai saat ini yakni ketika memperkenalkan Yusni di grup. “Pak Yusni, mungkin sedikit Pak yang aktif malam ini, tapi insya Allah akan bermanfaat buat yang lain karena jejak diskusinya akan selalu tertinggal di grup ini.” Septi yakin kebaikan-kebaikan Haska akan selalu meninggalkan jejak bagi para kolega.

    Adapun Purnama Luki Cidayanti menilai Haska sebagai seorang yang berwawasan luas. Hal ini terlihat dari kegemarannya membaca dan mempelajari sesuatu dari buku, video, artikel di koran, atau di situs web. “Membaca statusnya di media sosial atau melihat foto-foto yang diambilnya selalu penuh makna,” kata Luki.

    Pernah suatu saat Luki mendatangi meja Haska, korban Lion Air JT 601. Di sana, Luki melihat buku puisi Sapardi Djoko Damono: 'Hujan Bulan Juni'. “Bahkan menurutku, Haska adalah seorang yang puitis dan berjiwa seni,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.