Kamis, 15 November 2018

Ramainya Pantai Tanjung Pakis Karawang Pasca Lion Air Jatuh

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menyambangi Pantai Pakis Jaya, Karawang, Jawa Barat, Senin sore, 29 Oktober 2019. Pantai ini merupakan titik terdekat dengan lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Warga menyambangi Pantai Pakis Jaya, Karawang, Jawa Barat, Senin sore, 29 Oktober 2019. Pantai ini merupakan titik terdekat dengan lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Karawang - Pasca jatuhnya pesawat Lion Air, Posko Crisis Center di Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, mendadak ramai dikunjungi warga. Pantai yang biasanya sepi, kali ini dipenuhi warga yang penasaran dengan perkembangan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di Perairan Tanjung Karawang.

    Baca juga: KNKT Cari Black Box Lion Air Pakai Hydrophone dari Singapura

    Di tengah kerumunan warga yang mengamati laut, banyak pedagang yang menjajakan minuman dan makanan ringan. Seperti air mineral, es teh manis, bubur ayam, bakso, dan lainnya. Yaman, 53 tahun, mengaku mendapatkan keuntungan dari kejadian ini.

    "Jual Aqua sama es teh saja, sehari ini dapet Rp 400 ribu," kata dia sambil menjajakan dagangannya, Selasa 30 Oktober 2018.

    Air mineral dan es teh manis yang dijual Yaman dihargai Rp 5.000. Pedagang lainnya juga menjajakan minuman yang serupa. Bahkan ada yang menjual as jeruk, untuk para warga yang berjubel berdatangan.

    Selain makanan kecil, pedagang mainan hadir di tempat ini. Mereka menjual balon, layangan, dan terompet untuk anak-anak. Harga mainannya pun juga beragam, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu untuk sebuah layangan.

    Selain orang dewasa, pantai ini juga dipenuhi anak-anak yang dibawa orang tuanya yang penasaran dengan Posko Crisis Center ini. Warga terlihat berkerumun di dekat posko, mereka juga senang mengamati awak media yang sedang bekerja. Seperti Yeni Trian, (34), yang datang bersama keluarga ke pantai ini.

    Yeni, yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, datang dari Cikarang khusus untuk melihat temuan pesawat Lion Air yang jatuh. "Dua jam naik mobil ke sini," ucap dia.

    Tak sekadar melihat pantai dan mengamati Tim SAR bekerja, Yeni bersama keluarganya juga membeli makanan di warung sekitar posko. Dia mengaku menghabiskan Rp 75 ribu untuk makan ikan bakar bersama keluarga, sambil mengamati perahu Tim SAR yang berlalu-lalang di pantai.

    Senin pagi sekitar pukul 06.32 WIB, pesawat Nomor Penerbangan JT 610 milik operator Lion Air yang terbang dari Bandar Udara Soekarno Hatta menuju Bandar Udara Depati Amir di Pangkal Pinang dilaporkan hilang kontak.

    KNKT mengungkapkan pesawat masuk ke Lion Air pada Agustus 2018 dan memiliki 800 flight hour, sehingga masih relatif baru. Adapun Capt. Bhavye Suneja yang menjadi pilot pesawat itu mempunyai pengalaman lebih dari 6.000 jam terbang, sedangkan copilot Harvino memiliki lebih dari 5.000 jam terbang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.