Selasa, 11 Desember 2018

OJK Menginginkan Investor Bank Muamalat Setor Dana Segar

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bank Muamalat. TEMPO/Dasril Roszandi

    Bank Muamalat. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan atau OJK menginginkan investor baru PT Bank Muamalat Indonesia Tbk membawa dana segar untuk memperkuat permodalan perseroan. Bank syariah pertama di Indonesia ini butuh suntikan dana sekitar Rp 408 triliun. “Pemegang saham gak mau tambah modal, ya harus cari investor,” ujar Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto Prabowo, kepada Tempo, Kamis 27 September 2018.

    Simak: Yusuf Mansur Blak-blakan Soal Kerja Samanya dengan Bank Muamalat

    Menurut Anto, mencari investor tidak memandang suku, agama, ras dan antargolongan. “Semua boleh masuk, yang penting kredibel dan tidak melanggar ketentuan.”

    Dia menjelaskan, skema asset swap atau tukar guling aset biasa dalam transaksi bisnis. Namun skema yang diusulkan calon investor tidak memenuhi ketentuan. “Non-tradable, dengan jangka waktu 20 tahun dan aset tertimbang menurut risiko nol persen,” ucap Anto.

    Anto mengakui, OJK menyatakan tidak setuju dengan skema asset swap dalam transaksi penambahan modal Muamalat. “Lebih baik dengan fresh money (dana segar),” ujarnya.

    Menurut dia, saat ini yang dibutuhkan Muamalat adalah suntikan dana segar untuk membantu permodalan. OJK mempersilakan kepada investor yang akan masuk ke Muamalat asalkan membawa dana. “Silakan masuk dan tempat di escrow account.”

    Saat ini ada dua calon investor yang digadang-gadang dapat membantu mengatasi masalah permodalan Muamalat. Pertama adalah putra pertama mantan presiden B.J. Habibie, Ilham Habibie, yang menggandeng sejumlah investor, yaitu perusahaan investasi Singapura Lynx Asia, SGG Group, dan Arifin Panigoro. Kedua adalah pendiri Mayapada Group, Dato Sri Tahir (Ang Tjoen Ming). Keduanya berencana masuk dengan menawarkan skema berbeda. Ilham bersama konsorsiumnya menawarkan skema tukar guling aset (asset swap). Sedangkan Tahir disebut menawarkan skema strategic partnership.

    Anto membantah pola injeksi dana segar ke Muamalat karena OJK berpihak kepada Dato Sri Tahir. “Tidak, yang namanya investasi tidak mengenal latar belakang yang penting bawa dana,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.