Senin, 20 Agustus 2018

Peternak Sebut Harga Ayam Tak Mungkin Turun Karena 3 Hal Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga membei ayam petelur afkiran yang harganya melonjak sampai Rp 40.000 per kg di Pasar Cicadas, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 24 Juni 2017. Ayam, itik, dan kulit ketupat, menjadi komoditi yang harus dibeli jelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H.  TEMPO/Prima Mulia

    Warga membei ayam petelur afkiran yang harganya melonjak sampai Rp 40.000 per kg di Pasar Cicadas, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 24 Juni 2017. Ayam, itik, dan kulit ketupat, menjadi komoditi yang harus dibeli jelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Purwokerto - Wakil Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Gembong Nugroho, menyebutkan harga ayam ras saat ini tidak mungkin bisa turun ke level hingga seperti sebelum Lebaran. "Tidak mungkin bisa kembali normal seperti sebelumnya," ujarnya, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu, 25 Juli 2018.

    Baca: Harga Ayam Tembus Rp 55 Ribu, Para Pedagang Pilih Tak Berjualan

    Alasan pertama, kata Gembong, per tanggal 24 Juli 2018, harga pakan ayam ras naik sebesar Rp 150 per kilogram dan konsentrat naik Rp 300 per kilogram. Selain itu, kata dia, harga bibit ayam atau day old chick (DOC) saat sekarang mencapai kisaran Rp 7.500 - 8.500 per ekor.

    Selain itu, kata Gembong, kenaikan harga ayam ras atau ayam pedaging di pasaran tidak semata-mata karena adanya kenaikan harga pakan dan konsentrat serta DOC yang tinggi. Alasan kedua kenaikan harga ayam juga disebabkan oleh minimnya pasokan ayam pedaging dari peternak ke pasar.

    Baca: Menteri Pertanian: Enggak Sulit Turunkan Harga Ayam

    Menurut Gembong, hal itu merupakan dampak dari pembatasan kuota impor grand parent stock atau ayam indukan. "Dulu, pada tahun 2016-2017, grand parent stock gila-gilaan dilepas begitu saja sehingga produksi DOC-nya sangat banyak dan harga ayam hancur. Oleh karena itu, ada kebijakan untuk mengurangi grand parent stock hingga 50 persen," katanya.

    Pengurangan ayam indukan tersebut yang kemudian berdampak pada kenaikan harga DOC karena produksinya berkurang. "Ibaratnya, kalau dulu DOC menunggu kandang, sekarang kandang menunggu DOC," katanya.

    Lebih lanjut, Gembong mengatakan saat stok DOC berkurang akibat pengurangan ayam indukan, saat sekarang ada kebijakan teranyar yang menjadi alasan ketiga berupa larangan penggunaan perangsang pertumbuhan ayam (growth promoter). Jika menggunakan perangsang pertumbuhan, ayam pedaging hanya butuh waktu 33 hari untuk bisa mencapai bobot hidup sebesar 2 kilogram.

    Sebaliknya, jika tidak menggunakan perangsang pertumbuhan, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot hidup 2 kilogram itu selama 44 hari. Dengan demikian, lanjut dia, pasokan ayam pedaging ke pasaran menjadi berkurang sehingga harganya melonjak. "Baru kali ini, harga daging ayam lebih mahal dari harga saat Lebaran," kata Gembong.

    Harga daging ayam ras di pasar tradisional Purwokerto dalam beberapa waktu terakhir cenderung naik akibat minimnya pasokan. Bahkan, harga ayam di Pasar Manis Purwokerto pada akhir pekan lalu sempat mencapai Rp 45.000 per kilogram dan pada hari Rabu ini turun menjadi Rp 42.000 per kilogram. Meskipun turun, harga tersebut masih tergolong tinggi karena sebelum Lebaran berada pada kisaran Rp 32.000 - 33.000 per kilogram.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Twice Konser Di Jakarta

    Twice akan mengunjungi Jakarta pada 25 Agustus 2018. Konser ini adalah pertunjukan pertama mereka di Indonesia. Berikut fakta-fakta tentang mereka.