Senin, 23 Juli 2018

GPMT: Harga Pakan Ayam Naik Akibat Rupiah Melemah

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memberikan pakan ayam di peternakan ayam pedaging di Desa Bantarjaya Kecamatan Rancabungur Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 25 Maret 2012. Dok.TEMPO/Dasril Roszandi

    Pekerja memberikan pakan ayam di peternakan ayam pedaging di Desa Bantarjaya Kecamatan Rancabungur Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 25 Maret 2012. Dok.TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo mengatakan harga pakan ayam naik akibat rupiah melemah di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat.

    "Kalau mengikuti bahan pakan, 83 persen itu menyumbang harga cost dari harga jual pakan. Maka, kalau ada kenaikan harga bahan pakan, itu otomatis naik," katanya saat ditemui dalam acara Indo Livestock 2018 di Jakarta Convention Center, Rabu, 4 Juli 2018.

    Baca: Rupiah Diprediksi Bergerak di Rp 14.335 - Rp 14.405 Hari Ini

    Desianto menuturkan kenaikan mencapai 5-6 persen. Menurutnya, jika mengikuti harga dolar Amerika, seharusnya pengusaha sudah menaikkan Rp 600 lebih. Namun beberapa anggota ada yang naik hanya Rp 300-350.

    Harga untuk pakan ayam boiler saat ini sekitar Rp 7.000 per kilogram sudah sampai ke peternak. Sedangkan harga layer sekitar Rp 6.000-6.300.

    Desianto mengatakan struktur harga pakan 83 persen diakibatkan bahan pakan. Sedangkan bahan pakan 60 persen merupakan impor. Bahan pakan tersebut antara lain suplemen, vitamin, antibiotik, feed suplemen, premix, dan bungkil kedelai.

    "Berpengaruh, karena dolar menguat atau rupiahnya melemah 14.300 sekarang, pada 60 persen dari itu," ujarnya.

    Baca: Jaga Stabilitas Rupiah, Sri Mulyani Akan Batasi Impor

    Faktor lain kenaikan harga lain adalah pasokan bungkil kedelai naik akibat ada kekeringan di Brasil dan Argentina.

    Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika berada di angka Rp 14.418 pada penutupan Selasa, 3 Juli 2018. Angka tersebut menunjukkan penguatan 87 poin dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 14.331 pada penutupan Senin, 2 Juli 2018.

    Sedangkan pada 3 Juli 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah senilai Rp 14.490 dan kurs beli Rp 14.346.

    Desianto berharap pemerintah mampu mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. "Hitungan kemarin kan Rp 13.600 sampai Rp 13.500, sekarang Rp 14.300. Makin rendah exchange rate-nya itu makin baik karena itu kan dari impor, impor berlaku dolar. Jadi makin dolar menguat makin sengsara industri ini," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bulan Juli Ada Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat

    Tanggal 15 Juli adalah Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat. Ronald Reagan menetapkan bulan Juli sebagai hari minuman yang disukai tua muda itu.