Senin, 25 Juni 2018

Sebelum Ada Ini, Tak Mudah Industri Startup Mencari Pegawai

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Startup Weekend Jakarta di Conclave Working Space, Jakarta, 3 Oktober 2015. TEMPO/Erwin Zachri

    Startup Weekend Jakarta di Conclave Working Space, Jakarta, 3 Oktober 2015. TEMPO/Erwin Zachri

    TEMPO.CO, JAKARTA - “Bikin startup itu tak seenak yang kelihatannya,” kata Kepala Eksekutif Ivosight— start-up di bidang pemasaran— Elga Yulwardian di Kampus Prasetiya Mulya, pekan lalu seperti dikutip di Koran Tempo, Sabtu 12 Mei 2018. Setelah memutar otak memikirkan skema bisnis perusahaannya selama tiga tahun, dia harus mendapatkan masalah lagi untuk mengembangkan bisnis yang baru berusia satu tahun itu. Yakni, mencari pegawai yang ahli mendisain dan mengoperasikan sistem digital perusahaan.

    Berbagai upaya seperti memasang iklan lowongan kerja hingga menghubungi relasi dilakukan Elga. Hingga akhirnya, Ivosight menemukan dua orang yang cocok dimasukan ke tim. “Dapat juga akhirnya setelah nyari dan nunggu lumayan lama, tapi masih ada juga kendalanya, mereka di luar kota dan harus pulang pergi,” kata Elga.

    Permasalahan itulah yang ditangkap Ardo Gozal untuk mendirikan start up market place yang mengkhususkan menyediakan tenaga kerja bidang teknologi. Menurutnya, semua perusahaan teknologi baik yang masih benar-benar merintis, berkembang, hingga bervaluasi belasan triliun rupiah (unicorn) mengalami kesulitan yang sama. “Memang buat Unicorn bakal kebanjiran peminat, tapi mereka sekali butuh software engineer itu bisa sampai 40 puluhan,” ujar Ardo yang juga Kepala Operasional Ekrut.

    Simak: 2018, Pemerintah Targetkan 20 IKM Jadi Startup

    Berdiri sejak September 2016, Ekrut sudah menyediakan hampir 40 ribu tech talent dengan berbagai bidang keahlian. Ada empat jenis talenta teknologi yang ditawarkan yakni software engineering, produk, data, dan digital marketing. Para klien yang merupakan perusahaan tinggal mendaftarkan diri di situs Ekrut untuk bisa mencari tech talent sesuai keperluan dan kapan saja.

    Ardo bersama para co founder lainnya, Steven Suliawan dan Anthony Kusuma tak sengaja menemukan ide mendirikan perusahaan ini di awal tahun 2016 silam. Steven yang dulunya bekerja di sebuah venture capital sering berdiskusi tentang perekrutan tech talent kepada Ardo yang kala itu merupakan staf perekrutan sebuah konsultan human resources. Sulit bagi Ardo untuk memenuhi order Steven untuk mencari orang yang ahli dalam teknologi dalam jumlah besar dengan waktu yang singkat.

    “Head hunter kan ibarat penembak jitu, bisa cari yang sekelas eksekutif tapi daya tangkapnya terbatas,” ujar Ardo. Upaya Steven mencari orang di agen lowongan kerja juga buntu. Meski bisa memfasilitasi jumlah yang diinginkan, kualitas dan kapabilitasnya tak sesuai harapan. Lantaran situs dan agen tenaga kerja kerap tak memberikan kurator yang ketat.

    Dari dua studi kasus tersebut para co founder memutuskan untuk membalik sistem pencarian tenaga kerja yang semula calon karyawan meng”apply”, menjadi perusahaan yang mencari calon karyawan sesuai keinginan. “Siapa cepat dia dapat,” kata Ardo.

    Ketika awal berdiri dia tak menampik banyak menerima penolakan dari klien. Percepatan durasi perekrutan dan kuantitas kandidat karyawan akan sia-sia tanpa adanya jaminan kualitas. Karena itu Ekrut menerapkan seleksi administrasi yang ketat bagi pelamar kerja. Segala informasi dasar seperti latar belakang akademik, pengalaman kerja, hingga kedalaman keahlian teknologi, hingga kemampuan bahasa asing pelamar harus diseleksi dulu oleh machine learning ciptaan tim Ekrut.

    Tim Ekrut juga sedang memikirkan bagaimana cara memasukan orang yang benar-benar cakap di bidang teknologi meski terhalang latar belakang edukasi yang tak sesuai. “Banyak sekali memang contoh ortodidak seperti itu, tapi kami harus sambil jalan agar bisa scaleable,” kata Ardo. Keakuratan kurator akan segera diperbarui jika komitmen pendanaan serie A atau senilai Rp 10 miliar keatas terealisasi di akhir tahun ini.

    Untuk menghidupi perusahaan, Ekrut mematok tarif berlangganan jutaan rupiah untuk setiap bulannya. Ventura East Ventures juga turut menyokong pendanaan awal operasional Ekrut turut membantu menyuplai klien Ekrut dari jaringan startup yang dimilikinya. Saat ini sudah ada sekitar 500 perusahaan mulai dari rintisan yang baru merintis, hingga start-up unicorn semacam Go-jek, Tokopedia, dan Traveloka yang menjadi klien Ekrut. “Perusahaan konvensional juga pelan-pelan mendaftar di kami,” ujar Ardo.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.