Tumpahan Minyak Pertamina, Walhi Sebut Dampak Ekonomi dan Ekologi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bangkai pesut yang mati akibat tumpahan minyak tergeletak di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, 2 April 2018.  Kebakaran sempat terjadi saat upaya membersihkan tumpahan minyak di tengah laut pada 31 Maret 2018 lalu. Imeida Tandrin/REUTERS IMAGE

    Bangkai pesut yang mati akibat tumpahan minyak tergeletak di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, 2 April 2018. Kebakaran sempat terjadi saat upaya membersihkan tumpahan minyak di tengah laut pada 31 Maret 2018 lalu. Imeida Tandrin/REUTERS IMAGE

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengkampanye Ekosistem Esensial Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Wahyu Perdana, mengatakan ada dampak ekonomi dan ekologi yang ditimbulkan dari tumpahan minyak Pertamina di Teluk Balikpapan. Dia menyebutkan hampir semua budidaya kepiting dan rumput laut rusak akibat tumbuhan tersebut.

    “Pada jangka panjang, kerusakan ekosistem, matinya plankton sebagai sumber makanan ikan, akan berdampak pada jumlah tangkapan nelayan yang pada akhirnya akan berdampak pada ekonomi masyarakat,” kata Wahyu kepada Tempo, Ahad, 9 April 2018.

    Baca: Minyak Pertamina Tumpah di Balikpapan, Luhut: Tunggu Investigasi

    Wahyu menjelaskan tercemarnya bakau dan terumbu karang dapat berdampak pada populasi biota laut. Padahal, ikan dan kepiting di kawasan tersebut merupakan sumber daya kehidupan bagi masyarakat pesisir.

    Setidaknya ada 162 nelayan yang batal melaut karena mesin rusak akibat limbah tumpahan minyak. Kemudian, 17 ribu hektare lahan bakau tercemar di luma kawasan Padang Lamun. Lalu tumbuhan di Sungai Tempadung, Sungai Berenga, Pantai Langu, Tanjung Batu, dan Sungai Wain terancam mati. “Ada empat jenis mamalia yang dilindungi, terpaksa menjauh dari habitat,” tutur Wahyu.

    Menurut Wahyu, berdasarkan Undang-undang Perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup nomor 32, tahun 2009, Pasal 166, tuntutan pidana dapat dijatuhkan kepada badan usaha. Selain itu di pasal 88 undang-undang tersebut prinsip yang dipakai adalah pertanggungjawaban mutlak.

    Tumpahan minyak mentah milik PT Pertamina di Teluk Balikpapan semakin luas. Dari citra satelit pada 2 April 2018, area tercemar minyak seluas 120 kilometer persegi atau 12.000 hektare. Tiga hari kemudian, luasannya bertambah menjadi 200 kilometer atau 20.000 hektare.

    Perluasan itu bisa disebabkan pengarus arus dan gelombang. Namun yang dikhawatirkan adalah masih terjadinya kebocoran pipa bawah laut yang berawal pada Sabtu, 31 Maret 2018.

    Ketika itu, pipa penyalur minyak mentah dari Terminal Lawe-lawe di Penajam Paser Utara ke kilang Balikpapan, patah. Adapun pipa penyalur berdiameter 20 inci dengan ketebalan 12 milimeter tersebut berada di dasar laut dengan kedalaman 20-25 meter.

    Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan sampai saat ini pihaknya masih memantau kondisi dampak tumpahan minyak di Teluk Balikpapan. Hasilnya, ditemukan masih ada tumpahan minyak yang tersisa di perairan di sekitar Teluk Balikpapan. Untuk itu, Siti Nurbaya meminta kepada PT Pertamina untuk melakukan upaya pengambilan spot-spot minyak di beberapa titik agar tidak menyebar.

    Terkait kasus ini, PT Pertamina (Persero) mengatakan tengah berkoordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal (Ditreskrim) Kepolisian Daerah Kalimantan Timur menyelidiki penyebab pipa patah yang diduga menyebabkan tumpahan minyak di Teluk Balikpapan. Pertamina menjelaskan, pipa tersebut putus karena faktor eksternal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.