Presiden Jokowi Luncurkan Roadmap Revolusi Industri 4.0

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi saat acara peresmian Pelabuhan Perikanan Untia di Makassar, 26 November 2016. Pelabuhan ini akan dikembangkan menjadi Industri perikanan dengan sarana  dan prasarana yang memadai. TEMPO/Iqbal Lubis

    Presiden Jokowi saat acara peresmian Pelabuhan Perikanan Untia di Makassar, 26 November 2016. Pelabuhan ini akan dikembangkan menjadi Industri perikanan dengan sarana dan prasarana yang memadai. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi meluncurkan peta jalan dan strategi Indonesia untuk menerapkan revolusi industri jilid 4. Peta yang diberi nama Making Indonesia 4.0 itu memberikan arah bagi pergerakan industri nasional di masa depan.

    Presiden Jokowi menuturkan, pemerintah perlu arahan untuk mengantisipasi revolusi industri, yang saat ini tengah berjalan karena dampaknya yang begitu besar. Mengutip laporan lembaga riset McKinsey pada 2015, dampak revolusi industri 4.0 akan tiga ribu kali lebih dahsyat dari revolusi industri pertama di abad ke-19.

    Baca: Jokowi Panggil Susi dan Tiga Menteri Bahas Impor Garam

    "Kecepatan perubahannya akan 10 kali lebih dan dampaknya 300 kali lebih luas," ujar Jokowi saat membuka Industrial Summit di Jakarta Convention Center, Rabu, 5 April 2018.

    Di beberapa negara tetangga, revolusi ini bahkan sudah diterapkan. Jokowi mencontohkan robot pembersih lantai di Changi Airport dan robot pengantar makan di hotel di Singapura.

    Untuk itu, Jokowi menjadikan peta jalan Making Indonesia 4.0 itu sebagai salah satu agenda nasional Indonesia. Kementerian Perindustrian ditunjuk menjadi koordinator program tersebut. "Saya harap kementerian lembaga lain, pemerintah daerah, dan pelaku usaha mendukung penuh program ini sesuai tugas masing-masing demi kemajuan bangsa yang dicintai," ujarnya.

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan Making Indonesia 4.0 disusun dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, maupun lembaga riset dan pendidikan. Keterlibatan banyak pihak ini diharapkan dapat memuluskan jalannya implementasi industri 4.0 di Indonesia yang sudah dirancang sejak dua tahun lalu.

    Dalam Making Indonesia 4.0, terdapat 10 inisiatif nasional yang bersifat lintas sektoral untuk mempercepat perkembangan industri manufaktur. Airlangga mengatakan di dalamnya terdapat perbaikan alur distribusi barang dan material, membangun peta jalan zona industri komprehensif dan lintas industri, mengakomodasi standar berkelanjutan, serta memberdayakan industri kecil dan menengah.

    Pemerintah juga merancang strategi pembangunan infrastruktur digital nasional, menarik minat investasi asing, peningkatan sumber daya manusia, dan pembangunan ekosistem inovasi. Selain itu ada rancangan insentif untuk investasi teknologi dan harmonisasi aturan.

    Industri 4.0 di Indonesia akan dimulai dengan pengembangan lima sektor manufaktur yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, dan industri elektronik. Airlangga menuturkan sektor tersebut dipilih setelah melalui evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup ukuran PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.

    Melanjutkan penjelasan Presiden Jokowi, Menteri Airlangga mengatakan Making Indonesia 4.0 yang sukses mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2 persen per tahun. "Sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik menjadi 6-7 persen pada periode 2018-2030," ujarnya. Industri manufaktur diperkirakan akan berkontribusi sebesar 21-26 persen terhadap PDB pada 2030.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.