Tol Balikpapan-Samarinda Ditargetkan Beroperasi Awal 2019

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi meninjau proyek Tol Balikpapan-Samarinda di Kalimantan Timur, 13 Juli 2017. Foto Biro Pers Istana Kepresidenan.

    Presiden Jokowi meninjau proyek Tol Balikpapan-Samarinda di Kalimantan Timur, 13 Juli 2017. Foto Biro Pers Istana Kepresidenan.

    TEMPO.CO, Jakarta - Jalan Tol Balikpapan-Samarinda, yang merupakan jalan tol pertama di Pulau Kalimantan, ditargetkan beroperasi penuh pada awal 2019 dan digadang-gadang menjadi cikal bakal Jalan Tol Trans Kalimantan.

    Saat ini, pembangunan jalan tol sepanjang 99,35 kilometer itu masih berlangsung dan ditargetkan selesai pada pengujung 2018.

    PT Jasamarga Balikpapan Samarinda, selaku anak usaha PT Jasa Marga yang mengelola jalan tol ini, melakukan segenap upaya percepatan agar target yang telah ditentukan dapat terpenuhi.

    Baca juga: Pembangunan Tol Balikpapan-Samarinda Dikebut

    Direktur Utama PT Jasamarga Balikpapan Samarinda Arie Irianto mengatakan langkah percepatan dan pembangunan yang masif dibuktikan oleh progres pembangunan konstruksi yang terbilang positif.

    Hingga awal bulan ini, pembangunan konstruksi Jalan Tol Balikpapan-Samarinda telah mencapai 48 persen.

    "Sejumlah permasalahan masih kerap ditemui di lapangan, seperti pembebasan lahan, khususnya di seksi 4 dan terdapat sebagian trase di seksi 2 yang melalui kawasan hutan konservasi atau Taman Hutan Raya Bukit Suharto yang masih digarap warga," ujar Arie melalui siaran pers pada Selasa, 6 Februari 2018.

    Sampai dengan 1 Februari 2018, progres pembebasan lahan telah mencapai 90,67 persen.

    Jika sudah dioperasikan, Jalan Tol Balikpapan-Samarinda dapat memangkas waktu tempuh antara Balikpapan dan Samarinda, dari semula menghabiskan tiga jam menjadi hanya satu jam.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.